Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rumah untuk Milenial: Bagai Bermukim di Lindoya

Membeli rumah merupakan keputusan besar, karena bagi sebagian besar orang akan menghabiskan harinya di tempat ini. Untuk itu rumah harus di tempat senyaman mungkin yang dapat digapai bagai istana impian di Pulau Lindoya, Inggris.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 12 Agustus 2020  |  23:12 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono (paling kiri) meletakkan batu pertama pembangunan perumahan Persatuan Pencukur Rambut Garut (PPRG) dalam mewujudkan program sejuta rumah memberikan akses KPR bersubsidi untuk pekerja sektor informal yang bergabung dalam komunitas PPRG melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan. - Antara / Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono (paling kiri) meletakkan batu pertama pembangunan perumahan Persatuan Pencukur Rambut Garut (PPRG) dalam mewujudkan program sejuta rumah memberikan akses KPR bersubsidi untuk pekerja sektor informal yang bergabung dalam komunitas PPRG melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan. - Antara / Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Senyum semringah terpancar di wajah Yeyen (25). Sepekan setelah pernikahannya pada 26 Juli 2020 lalu, ia dan sang suami, Permana (32), pindah ke rumah baru mereka.

Rumah dua kamar di Serang, Banten itu berukuran 27/60. Rumah dengan halaman cukup untuk memulai berkebun bunga. Sedangkan bagian belakang memiliki ruang lebar bagi mereka berdua untuk meletakkan perkakas dan menjemur pakaian.

Rumah pertama bagi Yeyen dan Permana ini merupakan buah keyakinan mereka sebagai pekerja muda. Terutama bagi Permana yang merantau ke Tanah Jawa. Berangkat dari Sumatra 3 tahun lalu, Permana  bekerja di salah satu perusahaan karton di bilangan Serang, Banten. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bisa punya rumah segera setelah berumah tangga.  

Berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain sebagai lajang, membuat Permana memberanikan diri membeli rumah. Apalagi setelah ia mendapat berbagai informasi mengenai program subsidi pemerintah untuk uang muka pembelian rumah. Ditambah dengan suku bunga rendah, membuat ia semakin bersemangat. Apalagi suasana perumahan yang ia taksir itu nyaman, terdapat fasilitas tempat ibadah, jalan beton cukup 2 mobil dan air bersih.

“Pengembang cuma meminta Rp2 juta sebagai tanda jadi, katanya ada bantuan Kementerian PU [Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat/PUPR]. Memiliki rumah ini bagi saya seperti mewujudkan mimpi berumah di Lindoya,” kata Permana, Selasa (11/8/2020).

Permana bisa bernafas  lega. Sekarang ia bisa punya rumah pertama di usia muda. Hal ini berbeda dengan kebanyakan anak muda seusianya. Keputusan Permana mengutamakan kepemilikan rumah, belum menjadi keputusan bagi para milenial lainnya (rentang usia saat ini 18 – 35 tahun).

Data Badan Perencana Pembangunan Nasional  menyebutkan generasi ini mencakup 90 juta jiwa, namun jumlah besar ini tidak diiringi kemampuan membeli rumah layak. Para milenial biasanya terkendala dengan minimnya ketersediaan rumah di area kerja, harga yang terlalu mahal, serta besarnya kewajiban yang mereka tanggung baik utang konsumtif ataupun peran sebagai generasi sandwich. Generasi sandwich merupakan istilah bagi keluarga muda yang memiliki anak namun juga harus menanggung hidup orang tua mereka sehingga mereka terhimpit di tengah.

Dalam survei harga properti residensial Bank Indonesia yang dirilis Rabu (12/8/2020), sulitnya masyarakat membeli rumah termasuk kalangan milenial pada triwulan II/2020 disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya adalah dampak pandemi Covid-19 yang berlanjut dengan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) serta suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang masih tinggi. Hambatan suku bunga, menurut laporan Bank Indonesia berlaku untuk para pembeli rumah tipe kecil dan menengah.

Sementara itu, faktor lain yang juga dinilai menjadi penghambat kepemilikan rumah adalah tingginya porsi uang muka hingga masalah birokrasi. Karena itu, program KPR tanpa subsidi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menjadi salah satu solusi yang efektif.

 Pertumbuhan pembiayaan FLPP

Grafik pertumbuhan tahunan KPR dan FLPP./Dok. Bank Indonesia 

Memudahkan

Lebih jauh, survei Bank Indonesa itu mencatat terjadi pertumbuhan penjualan rumah sepanjang triwulan II/2020 sebesar 10,14 persen dibandingkan triwulan I/2020. Ini merupakan dampak langsung dari program keringanan KPR yang diluncurkan.

“Peningkatan tersebut terjadi pada rumah tipe kecil didorong tingginya pencairan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada triwulan II/2020,” ulas Bank Indonesia dalam risetnya.

Disebutkan dalam riset ini, sebanyak 78,41 persen masyarakat yang membeli rumah pada triwulan II/2020 menggunakan fasilitas KPR untuk membeli rumah. Sedangkan selebihnya 16,22 persen menggunakan skema tunai bertahap dan 5,37 persen secara tunai.

“Pencairan FLPP pada triwulan II/2020 sebesar Rp4,54 triliun atau tumbuh 169,17 persen (yoy). Realisasi FLPP dalam triwulan II/2020 merupakan realisasi tertinggi dalam satu triwulan sejak 2018,” jelas riset Bank Indonesia ini.

Direktur Jenderal Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Khalawi Abdul Hamid menyebutkan pihaknya terus mempermudah masyarakat termasuk milenial untuk memiliki rumah dengan beragam program. Selain kemudahan pembiayaan, Kementerian PUPR, juga memperbanyak unit di kawasan yang memiliki permintaan tinggi seperti di sekitar kawasan industri hingga kawasan pasar.

Hingga 10 Agustus 2020, jumlah rumah yang dibangun dalam progam sejuta rumah mencapai 258.252 unit. Rumah yang dibangun sebagian besar merupakan tipe kecil dan menengah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah. Segmen ini mencapai 79 persen program.

Khalawi menerangkan, adanya Pandemi Covid – 19 cukup berpengaruh pada pelaksanaan Program Sejuta Rumah di lapangan. Untuk itu Dirjen Perumahan telah menerbitkan Surat Edaran Dirjen Perumahan No.03/SE/Dr/2020 tentang Pedoman pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi Pada Direktorat Teknis di lingkungan Jenderal Perumahan selama Masa Pandemik Covid -19.

Perumahan

Foto aerial kompleks perumahan bersubsidi di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (31/1/2020). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalokasikan anggaran perumahan bersubsidi untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp11 triliun untuk 102.500 unit rumah pada 2020. Antara - Nova Wahyudi

Melalui peraturan ini, pemerintah mendorong penyediaan rumah kembali lancar dan mampu mengejar realisasi tahun 2019 seoptimal mungkin. Pada tahun lalu, dari sejuta rumah yang ditargetkan pembangunan rumah untuk masyarakat hingga 31 Desember 2019 tercatat 1.257.852 unit.

“Kami tetap mengupayakan agar di akhir tahun capaian Program Sejuta Rumah bisa menembus 1.000.000 unit. Sedangkan target konservatif keseluruhan hingga akhir tahun sebesar 900.000 unit mengingat adanya pandemi Covid -19,” terangnya.

Berbagai program yang diluncurkan pemerintah melalui Kementerian PUPR untuk memudahkan masyarakat mendapatkan rumah, merupakan harapan banyak orang untuk bisa mewujudkan mimpi memilliki rumah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perumahan flpp
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top