Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ojol Jadi Andalan Feeder Angkutan Umum di Jabodetabek

Sebanyak 48 persen pengguna angkutan umum di Jabodetabek mengandalkan transportasi online sebagai feeder menuju moda transportasi utama.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 05 Agustus 2020  |  16:59 WIB
Pengemudi ojek online melintas di kawasan Mayestik, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengemudi ojek online melintas di kawasan Mayestik, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah 48 persen pengguna angkutan umum massal di Jabodetabek menggunakan layanan transportasi online sebagai angkutan pertama (first mile) maupun angkutan terakhir (last mile) menuju tempat tujuannya.

Peneliti Sekolah Bisnis Management ITB Yos Sunitiyoso mengatakan dari hasil surveinya pelaju komuter menggunakan berbagai macam layanan transportasi guna memenuhi kebutuhan perjalanan first mile dan last mile-nya.

"Dari jalan kaki mikrolet atau mikrotrans, ada juga kendaraan pribadi. Tapi yang cukup besar ada adalah pengguna transportasi daring dari yang berbasis sepeda motor maupun mobil. Mayoritas ojek daring," paparnya, Rabu (5/8/2020).

Sebanyak 48 persen dari responden menggunakan layanan transportasi daring sebagai bagian multimodanya dan lebih dari 39 persen sebelum menggunakan kendaraan pribadi dan beralih menjadi pengguna transportasi online dalam menuju hub transportasi massal atau stasiun.

"Berbagai layanan digunakan oleh responden dari yang berbasis ojek online atau taksi online. Namun, sebanyak 96 persen sering menggunakan layanan ojol sebagai bagian perjalanan multimoda. Ini sebagai kemudahan akses dari dan ke stasiun keterjangkaun harga dan kenyaman melalui kemacetan," katanya.

Adapun faktor keputusan yang memengaruhi pemilihan angkutan multimoda terdapat lima hal, yakni waktu perjalanan yang dapat diprediksi, kenyamanan moda transportasi, tarif, kemudahan melanjutkan transportasi daring, dan titik penjemputan yang jelas.

Kemudian, dia merekomendasikan kepada para operator dan regulator agar para operator baik angkutan massal maupun feeder seperti transportasi online mau berbagi informasi guna mendorong penumpang menggunakan transportasi massal.

Informasi tersebut dapat berupa halte atau stasiun terdekat, opsi transportasi umum yang murah, atau rute transportasi daring yang ada.

Kedua adalah kebijakan drop and ride yang mendorong pelaju menggunakan transportasi dari dan menuju stasiun. Kemudian, ketiga terkait integrasi sistem pembayaran.

"Terakhir perlunya adanya kebijakan infrastruktur sesuai seperti jalur khusus moda tidak bermotor di jalan umum dalam rangka untuk meningkatkan potensi kendaraan personal dan eksplorasi penyediaan fasilitas parkir di halte dan stasiun," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi Ojek Online
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top