Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penurunan Jam Kerja Bikin Daya Beli Masyarakat Terpangkas Rp1.158 Triliun

Staf Ahli Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Kementerian (PPN/Bappenas) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan perhitungan tersebut dilakukan pada dua sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19, yaitu sektor manufaktur dan pariwisata.
Maria Elena & Asteria Desi Kartika Sari
Maria Elena & Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  21:28 WIB
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis - Abdullah Azzam
Suasana di salah satu pabrik perakitan motor di Jakarta, Rabu (1/8/2018). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) melakukan perhitungan besarnya jumlah kehilangan daya beli masyarakat akibat penurunan jam kerja sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Staf Ahli Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Kementerian (PPN/Bappenas) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan perhitungan tersebut dilakukan pada dua sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19, yaitu sektor manufaktur dan pariwisata.

Penurunan daya beli dibagi menjadi tiga ketegori, di antaranya direct impact, indirect impact, dan induced impact.

Pertama, kategori direct impact, pada pekerja sektor manufaktur dan pariwisata yang mengalami penurunan penurunan jam kerja, dikalkulasikan selama 30 minggu terus menerus, maka akan terjadi penurunan daya beli sebesar Rp374,4 triliun.

Amalia mengatakan kedua sektor tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor lainnya, sehingga akan menimbulkan efek domino ke sektor-sektor lainnya, ini yang masuk ke dalam kategori indirect impact dan induced impact.

Dengan penambahan dua ketegori tersebut, kehilangan daya beli masyarakat akan diperkirakan akan mencapai Rp1.158 triliun.

"Dampak yang terjadi di kedua sektor ini akan menyebabkan dampak ikutan ke sektor-sektor lain, sehingga kalau ditotal dampak ke kehilangan daya beli akibat jam kerja menjadi sebesar Rp1.158 triliun," katanya saat mengunjungi Bisnis, Senin (13/7/2020).

Amalia menjelaskan, dampak tersebut dapat diukur ke perlambatan ekonomi Indonesia, hal ini pun tercermin dari prediksi pertumbuhan ekonomi akhir tahun 2020 sebesar -0,4%.

Menurut Amalia, data tersebut jelas menunjukkan sektor manufaktur dan pariwisata merupakan sektor yang sangat penting terhadap ekonomi Indonesia.

Oleh karena itu, pada 2021, kedua sektor tersebut, termasuk investasi, menjadi fokus pemerintah dalam memulihkan ekonomi. Di samping itu, Amalia menilai pemberian insentif kepada ketiga sektor tersebut akan memberikan dampak yang cukup besar terhadap pemulihan ekonomi di 2021.

"Dari sini terlihat jelas sektor industri dan pariwisata sangat penting terhadap ekonomi, karena itu 2021 fokus pemulihan akan difokuskan ke 3 sektor, industri, pariwisata dan investasi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi konsumsi daya beli
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top