Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ikatsi Angkat Bicara Mengenai Bahan Baku Alat Pelindung Diri

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) berharap agar pemerintah dan perwakilan di berbagai negara bisa terus mempromosikan produk APD lokal.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 02 Juli 2020  |  20:46 WIB
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). - ANTARA FOTO/M. Risyal Hidayat
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri sebuah perusahaan garmen saat kunjungan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Jakarta, Rabu (1/7/2020). - ANTARA FOTO/M. Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Ikatan Ahli Tekstil Indonesia menilai masalah bahan baku alat pelindung diri tak seharusnya menjadi kendala penyerapan produksi lokal.

Menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi) Suharno Rusdi, bahan baku yang digunakan industri dalam negeri telah memenuhi standar perlindungan dari Covid-19 meskipun Kementerian Kesehatan sempat dikabarkan enggan menyerapnya.

"Yang terpenting itu bukan soal bahan bakunya dari serat non-woven atau bukan, melainkan lebih ke porositas pada pakaian medis itu. Industri dalam negeri sudah bisa menyesuaikan kebutuhan baku agar tetap aman dari virus Covid-19," katanya ketika dihubungi Bisnis, Kamis (2/7/2020).

Suharno menjelaskan bahwa industri dalam negeri telah mulai memproduksi pakaian pelindung medis berbahan baku woven polyester mulai Maret dengan produksi yang mulai meningkat pada April. Peningkatan produksi ini terjadi seusai pelaku industri melakukan penyesuaian pada produksi bahan baku.

"Memang pada awal Februari Maret kita memang kekurangan pakaian medis. Waktu itu pemerintah belum punya standar dan tidak tahu jika di dalam negeri bisa produksi, jadi jalan pintasnya impor," terangnya.

Namun, seiring meningkatnya kapasitas produksi di dalam negeri dan dibukanya keran ekspor, Suharno berharap agar pemerintah dan perwakilan di berbagai negara bisa terus mempromosikan produk APD lokal.

Dia menjelaskan bahwa kemampuan produksi industri bisa mencapai 17 juta potong dengan kemampuan serapan di dalam negeri hanya di kisaran 5 juta–6 juta potong.

"Jadi, masih ada surplus yang sangat besar. Sekali pun diserap semua tetap harus ada ekspor," ujarnya.

Sebagaimana diwartakan Bisnis sebelumnya, kapasitas produksi meltbond yang menjadi bahan baku produksi kain non-woven spunbond polypropilene yang menjadi preferensi Kementerian Kesehatan hanya mencapai 100.000 ton per tahun.

Sementara itu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia mencatat rata-rata produksi masker maupun pakaian medis nasional berpotensi surplus sekitar 580 juta potong dengan bahan baku woven polyester.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona alat pelindung diri
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top