Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kembangkan Smartport, Indonesia Dianggap Masih Pemula

National Maritime Institute (Namarin) menilai penerapan pelabuhan pintar (smartport) di Indonesia masih banyak kekurangan karena dianggap sebagai pemula.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  18:10 WIB
Truk melintas di kawasan pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT) di Jakarta, Kamis (19/12/2019). Bisnis - Himawan L Nugraha
Truk melintas di kawasan pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT) di Jakarta, Kamis (19/12/2019). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia masih dikategorikan sebagai pemula dalam pengembangan pelabuhan pintar sehingga wajar jika masih terdapat kekurangan di sejumlah aspek yang diharapkan dapat diperbaiki sejalan dengan tuntutan percepatan selama pandemi.

Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mengatakan agak sulit melacak penerapan smartport di Indonesia pertama kali diperkenalkan. Siswanto menjelaskan apabila peluncuran National Single Window (pada 2007) sebagai awalnya, maka sudah 13 tahun Indonesia melakukan digitalisasi pelabuhan.

Dia menyampaikan negeri Jiran dan Singapura juga telah memiliki sistem yang sama dikenal dengan Tradenet. Peluncurannya telah dilakukan pada 2000. Alhasil dibandingkan dengan kedua negara tersebut, Indonesia boleh dikatakan sebagai pemula.

“Sering terjadi, kendati sudah online, proses penyandaran kapal di sebuah pelabuhan yang sudah menerapkan Inaportnet tetap memerlukan tatap muka untuk membahas rencana kedatangan kapal dengan melibatkan Syahbandar, karantina dan sebagainya. Sementara itu, penerapan Indonesia National Single Window, masih dihadapkan pada kenyataan tidak seluruh instansi pemerintah yang terkait dengan proses pengurusan dokumen barang terintegrasi di dalamnya,” jelasnya, Senin (22/6/2020).

Belum lagi, kata dia, praktik koruptif yang melibatkan regulator, pelabuhan atau terminal dan pemilik barang yang masih merajalela dalam proses pengurusan dokumen impor-ekspor.

Akademisi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Saut Gurning juga  mengatakan adanya kekurangan yang ada pada platform tersebut terkait dengan implementasinya. Menurutnya ada dilema antara instansi keuangan, perdagangan dan perhubungan di sana. Hasilnya, platform teknologi informasi yang berada di bawah naungan mereka saling bersaing antara satu dengan yang lainnya.

Pelabuhan Pintar atau Smart port juga tidak melulu urusan internet of things (IoT) tetapi juga berkenaan dengan blockchain dan big data. Saut Gurning malah menyebut unsur energi perlu juga dimasukan sebagai elemen pelabuhan pintar dengan energi ramah lingkungan.

Saat ini di Indonesia baru Terminal Teluk Lamong, anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, yang sejauh ini sudah mempraktikkan prinsip energi ramah lingkungan di area terminal/dermaga. Kapal-kapal yang sandar dan membongkar muat di sana digantikan kapal-kapal memanfaatkan sambungan listrik yang khusus disiapkan oleh pengelola dermaga.

Sebagai perbandingan, di China, China Merchant Port Group (CMP) telah menggandeng Alibaba Group, melalui perusahaan afiliasinya, Ant Financial Group, untuk membangun platform blockchain.

Ke depannya, pengelola pelabuhan-pelabuhan di dunia berlomba-lomba dalam menerapkan blockchain untuk mendukung konsep pelabuhan pintar yang diimplementasikan. Di samping pelabuhan akan semakin efisien, ada pendapatan yang juga bisa diraup dari smart port.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pelabuhan kapal
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top