Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Organda: Kebijakan Kenormalan Baru Masih Berandai-Andai

Sekjen Organda Ateng Haryono mengatakan skenario tersebut muncul karena hingga kini memang belum dapat dotemukan virus baru penangkal Corona.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  18:16 WIB
Petugas menghentikan Bus AKAP Pelangi di Gerbang Tol Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Senin (18/5). (ANTARA/HO - 20)
Petugas menghentikan Bus AKAP Pelangi di Gerbang Tol Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Senin (18/5). (ANTARA/HO - 20)

Bisnis.com, JAKARTA - Organisasi Angkutan Darat (Organda) menilai kebijakan kenormalan baru masih berandai-andai dan belum bisa dipastikan pelaksanaannya oleh pengelola transportasi darat.

Sekjen Organda Ateng Haryono mengatakan skenario tersebut muncul karena hingga kini memang belum dapat dotemukan virus baru penangkal Corona.

Menurutnya pada fase normal baru sektor transportasi tetap dibutuhkan untuk mendukung pergerakan masyarakat meskipun dengan skala yang berbeda.

Untuk itu, perlu adanya pemahaman yang sesuai dalam pelaksanaannya. Sebab saat ini dia menilai ketika masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) disampaikan saja masih banyak masyarakat yang tidak mematuhinya.

"Kebijakan normal baru ini kan masih menginterpretasikan. Apakah ada standar baru bagi penyelenggara transportasi belum tahu. Jadi kami juga masih berandai-andai," katanya, Rabu (27/5/2020).

Dia mencontohkan dalam standar tatanan baru ini apakah nantinya cukup dengan hanya menggunakan disinfektan atau peralatan lainnya yang lebih canggih dalam upaya pengetatan protokol kesehatan.Jika hal itu dilakukan kedepannya akan membutuhkan investasi yang besar.

Namun, sejauh ini penyelenggara transportasi sudah mencoba membatasi penularan covid-19 dan mengarah ke hal tersebut dengan minimal melakukan jaga jarak serta membatasi okupansi.

Namun selanjutnya kesuksesannya juga bergantung kepada kesadaran masyarakat dalam penggunaan masker dan pembatasan diri ketika mengalami sakit.

"Kesadaran itu apakah bisa direspon cepat masyarakat. Rasanya kok susah.Kedepannya karena pemahaman, pengetahuan dan lersepsinya berbeda beda. Masih akan beragam dan penyesuaiannya nggak cukup,"imbuhnya.

Ateng berpendapat sebaiknya istilah pemerintah tidak berdamai dengan virus corona tetapi justru melawannya dan menangkalnya dengan baik. Salah satu caranya dengan memberikan informasi dan sosialisasi tanpa henti kepada masyarakat.

Menurutnya jika pemerintah memang memilih untuk menggerakkan ekonomi, aturan normal baru harus lebih tegas ditegakkan apapun konsekuensinya termasuk kritikan yang tidak manusiawi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transportasi New Normal
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top