Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ancaman Krisis Pangan, Bagaimana Kontribusi Milenial?

Kelompok masyarakat generasi milenial dinilai bisa turut serta menyelamatkan bangsa dari ancaman krisis pangan.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 14 Mei 2020  |  00:28 WIB
Petani memikul benih padi yang akan di tanam pada lahan pertanian di Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (5/5 - 2020). Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan kerja sama dengan BUMN dalam cetak sawah seluas 600.000 hektare, yang terdiri dari 400.000 hektare lahan gambut dan 200.000 hektare lahan kering sebagai antisipasi kekeringan dan ancaman kelangkaan pangan. / Antara
Petani memikul benih padi yang akan di tanam pada lahan pertanian di Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (5/5 - 2020). Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan kerja sama dengan BUMN dalam cetak sawah seluas 600.000 hektare, yang terdiri dari 400.000 hektare lahan gambut dan 200.000 hektare lahan kering sebagai antisipasi kekeringan dan ancaman kelangkaan pangan. / Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kaum milenial diminta turun tangan untuk mengatasi ancaman krisis pangan akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Juru Bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bidang pangan, Irwan Gunawan mengatakan ada sejumlah cara yang dapat dilakukan. Salah satunya yakni menumbuhkan jiwa petani muda baik di pedesaan maupun di perkotaan.

Seperti diketahui, regenerasi petani menjadi satu problematika sejak dulu. Kondisi yang terjadi saat ini pun dinilai turut menghambatnya regenerasi tersebut.

"Yang kita perlu waspadai dari krisis pangan ini adalah ketika berkurangya jumlah pekerja di sektor petani akibat kebijakan PSBB maupun lockdown. Selanjutnya adalah produksi pangan yang menurun akibat gangguan logistik pangan," ujar Irwan dalam sebuah diskusi online, Rabu (13/5/2020).

Kedua, kaum milenial bisa melakukan urban farming, khususnya mereka yang berada di perkotaan. Ketiga, memanfaatkan penjualan melalui pasar digital terutama untuk komoditas pertanian.

Irwan menyebut sejak pandemi ada perubahan dari pasar tradisional ke pasar digital. Inilah peluang yang bisa dimanfaatkan anak-anak muda untuk memanfaatkan penjualan produk pertanian secara online.

"Mungkin selama ini harga di tingkat petani sangat rendah sedangkan harga di tingkat konsumen sangat tinggi. Ini menjadi solusi bagaimana memangkas rantai distribusi sehingga semua berkeadilan, harga di tingkat petani wajar dan di tingkat konsumen terjangkau," tegasnya.

Keempat, memunculkan kreativitas anak muda dengan gagasan-gagasan mengenai diversifikasi pangan. Irwan berpendapat sangat banyak sekali potensi pangan lokal yang belum dikembangkan. "Seperti misalnya bahan baku dari mi (gandum) yang selama impor, bagaimana kita diversifikasi dari jagung atau dari bayam atau lainnya," sebutnya.

Cara terakhir, lanjut Irwan yakni melaksanakan lumbung pangan masyarakat.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira di dalam diskusi tersebut menambahkan isu soal pangan di saat pandemi adalah munculnya kapitalisme baru. Misalnya selain beras, yang harus diwaspadai terhadap krisis pangan di masa pandemi Covid-19 adalah harga gula.

Bhima menilai ada anomali yang terjadi pada gula internasional. Harga gula secara internasional turun 7,1 persen, tetapi harga gula domestik naik 36,8 persen.

"Nah ini adalah misteri harga gula kita. Jadi, impornya murah dijual lagi di dalam negeri dengan harga yang cukup tinggi. Bahkan beberapa tempat ketersediaannya sangat terbatas. Pertanyaan ada apa ini?" ungkap Bhima.

Dia lantas menyarankan agar PKS melakukan penyidikan dan melaporkan hal ini ke lembaga antirasuah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Nah ini mungkin kawan-kawan PKS untuk komoditas gula bisa melakukan penyidikan, syukur-syukur dilaporkan ke KPK," pungkas Bhima.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pangan pertanian generasi milenial
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top