Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengapa Pengaruh Covid-19 pada Pasar Properti Luar Jawa Kecil?

Nilai yang dihasilkan dari penjualan rumah tipe kecil hanya berkontribusi sekitar 25 persen dari nilai keseluruhan properti.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 29 April 2020  |  18:37 WIB
Kota Medan - pemkomedan.go.id
Kota Medan - pemkomedan.go.id

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar properti dan pembangunan di luar Jawa diperkirakan tidak mengalami banyak pengaruh dengan adanya pandemi Covid-19.

Presiden FIABCI Asia Pasifik Soelaeman Soemawinata mengatakan bahwa pembelian rumah di daerah luar Jawa seperti di Medan dan Palembang tidak akan mengalami penurunan separah di Ibu Kota.

“Turun sudah pasti, tapi tidak akan separah di Jakarta. Pertama, karena kebanyakan di daerah penjualan didominasi ruko, rumah kecil, khususnya subsidi yang kebutuhannya selalu ada,” ungkapnya pada web seninar, Rabu (29/4/2020).

Penjualan properti di daerah juga akan bergantung pada mata pencaharian mayoritas warganya. Apabila banyak warganya yang berasal dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS), kemungkinan untuk aman lebih tinggi karena setidaknya gaji PNS tetap ada." Kecuali kalau banyak masyarakatnya yang pekerja informal, itu beda lagi nasibnya.”

Namun, tidak begitu terpengaruhnya penjualan properti di daerah belum tentu menjadi pendukung pasar properti secara keseluruhan. Pasalnya, Eman mengatakan bahwa nilai yang dihasilkan dari penjualan rumah tipe kecil hanya berkontribusi sekitar 25 persen dari nilai keseluruhan properti.

Sementara itu, pasar rumah kelas menengah atas, sewa properti perkantoran, ritel, dan kawasan industri terhenti sama sekali. Pengembang maupun pemilik properti dari yang rata-rata penghasilannya tiap bulan miliaran rupiah sekarang jadi nol.

“Hal itu tidak bisa menjadi patokan juga kalau permintaan di daerah masih tinggi, tetapi setidaknya pengembang di daerah tersebut tidak mati, bisa tetap survive membiayai pekerjanya,” lanjutnya.

Eman menyebutkan bahwa kemungkinan krisis bisnis properti tahun ini bisa mengulang krisis pada 1998. Untuk bisa kembali naik dan bangkit, pengembang akan perlu waktu cukup panjang, sekitar 1 tahun hingga 2 tahun paling cepat. “Namun, yang saya yakin, industri properti bisa bangkit lebih cepat dari perkiraan.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti Virus Corona
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top