Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waduh! Proyek PLTS Ikut Terhenti karena Virus Corona

Adanya penundaan implementasi atau konstruksi proyek PLTS Bali Barat dan Timur selama tiga hingga 6 bulan dari jadwal semula. Lalu, pelaksanaan lelang proyek-proyek PLTS baru mengalami penundaan akibat Covid-19.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 21 April 2020  |  13:43 WIB
Waduh! Proyek PLTS Ikut Terhenti karena Virus Corona
Petugas sedang melakukan pengecekan harian di PLTS Gili Trawangan dengan kapasitas 600 kWp - Bisnis / David E. Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA – Kelanjutan proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia ikut terdampak virus corona (Covid-19).

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan Covid-19 berdampak pada penundaan pelaksanaan proyek PLTS yang dimiliki oleh PLN.

Adanya penundaan implementasi atau konstruksi proyek PLTS Bali Barat dan Timur selama tiga hingga 6 bulan dari jadwal semula. Lalu, pelaksanaan lelang proyek-proyek PLTS baru mengalami penundaan akibat Covid-19.

"Pengambilan PQ, aanwijzing, pengajuan dokumen, dan lain sebagainya yang diperkirakan 3 hingga 4 bulan," ujarnya dalam Video Conference, Selasa (21/4/2020).

Selain itu, pandemi Covid-19 juga berdampak pada penurunan permintaan PLTS rumah tangga dan C&I. Pada survei awal terhadap sejumlahEngineering, Procurement and Construction (EPC) ada dampak yakni permintaan PLTS atap skala rumah tangga pada Maret hingga April mengalami konstraksi sebesar 50 persen hingga 100 persen.

Hal ini dikarenakan kenaikan harga unit karena penguatan dolar Amerika Serikat sebesar 15 persen hingga 20 persen.  "Kenaikan harga unit ini menyebabkan biaya menjadi mahal," katanya.

Adanya peluang penundaan proyek-proyek yang sudah siap order. Outlook dalam enam bulan ke depan yakni kuartal III/2020 negatif atau tak ada permintaan baru.

Lalu untuk permintssn PLTS atap untuk commercial dan industri mengalami konstraksi 50 persen hingga 70 persen dimana juga tak ada permintaan baru hingga kuartal III/2020.

Fabby menuturkan pemilik fasilitas (C&I) memilih menshan investssi sebagai dampak dari cash flow perusahaan yang terganggu dan kenaikan nilai tukar rupiah yang menyebabkan ke sikan capital expenditure (CAPEX) dalam rupiah.

"Perhitungan keekonomian berubah, waktu payback investasi naik 1 hingga 2 tahun dari perhitungan awal," ucapnya.

Lalu project construction time terkendala kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menyebabkan tertunda dan mundur dari rencana.

Fabby menambahkan juga adanya gangguan supply chain dan logistik di China terganggu. Pasalnya, import material dan bahan terkendala prioritas pada alat atau perangkat penanganan Covid-19.

"Logistik di Indonesia juga terkendala," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

energi terbarukan plts proyek infrastruktur tenaga surya
Editor : David Eka Issetiabudi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top