Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemerintah Berupaya Tambal Defisit Anggaran, Diperkirakan Capai Rp853 Triliun

Defisit dari APBN diperkirakan sebesar Rp307,2 triliun atau 1,76 persen dari PDB. Namun, proyeksinya defisit bisa 5,07 persen atau Rp853 triliun
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 07 April 2020  |  17:27 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) bersama dengan Direktur Jenderal Pajak (DJP) Suryo Utomo (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Menteri Keuangan Sri Mulyani (kanan) bersama dengan Direktur Jenderal Pajak (DJP) Suryo Utomo (kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Defisit anggaran yang diproyeksikan mencapai Rp853 triliun atau 5,07 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) membuat kebutuhan pembiayaan pemerintah pada tahun ini semakin bertambah.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani secara virtual, Selasa (7/4/2020), Dia menyatakan pemerintah membuat peluang penambahan pembiayaan multilateral serta bilateral.  

Secara lebih rinci, pembiayaan utang melalui surat berharga negara (SBN) secara neto diproyeksikan mencapai Rp549,6 triliun. Dengan ini, terdapat tambahan pembiayaan SBN hingga Rp160,2 triliun dibandingkan yang ditargetkan pada APBN 2020.

"Defisit dari APBN diperkirakan sebesar Rp307,2 triliun atau 1,76 persen dari PDB. Namun, proyeksinya defisit bisa 5,07 persen atau Rp853 triliun," paparnya.

Menurutnya, perhitungan defisit akann berubah secara dinamis dalam beberapa bulan mendatang. Namun, baseline hari ini penerimaan turun 10 persen, sedangkan belanja naik untuk memberikan dukungan kepada sektor kesehatan. Hal itu termasuk insentif bagi medical staf dan juga perluasan jaring pengaman sosial.

Belanja yang tinggi dari pemerintah bertujuan agar masyarakat bisa mendapatkan perlindungan dari langkah pembatasan kegiatan sosial ekonomi. Dengan belanja yang naik dan penerimaan negara melemah, maka defisit diperkirakan berkisar 5 persen.

"Ini akan kita jaga agar di bawah 5 persen, akan kita lihat dari bulan ke bulan untuk realokasi pada bulan ke depan. Pemda juga diminta melakukan adjustment APBD," imbuhnya.

Sri Mulyani mengatakan pelebaran defisit ini menyebabkan pemerintah untuk mulai berpikir mencari alternatif pembiayaan. Bagaimana membiayai defisit yang meningkat di tengah tekanan pada market.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apbn sri mulyani
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top