Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini 3 Rekomendasi agar BLT Efektif Tangkal Corona

Indonesian Young Scientists (IYS) Forum memberikan rekomendasi soal Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada laboratorium diagnosa COVID-19 untuk pemeriksaan lebih cepat, lebih akurat, dan lebih luas kepada masyarakat.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 27 Maret 2020  |  12:57 WIB
BLT - Istimewa
BLT - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesian Young Scientists (IYS) Forum memberikan rekomendasi soal Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada laboratorium diagnosa COVID-19 untuk pemeriksaan lebih cepat, lebih akurat, dan lebih luas kepada masyarakat.

Berry Juliandi, ilmuwan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) anggota IYS Forum menjelaskan, rekomendasi tersebut dibuat berdasarkan tingkat fatalitas COVID-19 di Indonesia yang saat ini termasuk tinggi karena mendekati 10% dari sisi kematian. Pasalnya, level kematian akibat Covid-19 di Indonesia kini hampir sama dengan fatalitas SARS. Angka ini juga masih lebih dua kali lipat rerata fatalitas dunia.

“Hal ini disebabkan oleh rendahnya jumlah tes yang sudah Indonesia lakukan, umumnya hanya satu laboratorium saat wabah dimulai serta lambatnya Turn-Around-Time (TAT) dimana hasil diagnosa PCR diperoleh beberapa hari bahkan hingga satu minggu sehingga pasien tidak tertolong sebelum dikonfirmasi positif COVID-19,” ungkap Berry dan tim IYS mengevaluasi kerja penanganan Covid, Jumat (27/3/2020).

Dia menilai, dengan melakukan tes cepat alias rapid test berbasis PCR dengan sampel hasil swab sputum, nasal maupun feses, dan cairan saluran pernapasan secara masif dan cepat, maka individu berisiko bisa segera diisolir untuk mendapatkan perawatan. Langka ini juga dijamin bisa menghentikan transmisi yang meluas.

Berry menjelaskan, test cepat berbasis PCR memang lebih unggul bila dibandingkan dengan test cepat berbasis antibodi karena dapat mendeteksi secara akurat keberadaan virus COVID-19 pada orang yang tidak memiliki maupun memiliki simptom COVID-19.

Sebaliknya, test berbasis antibodi melalui test darah hanya menunjukkan adanya antibodi pada orang yang sudah pernah terinfeksi dan telah sembuh. Sebagai contoh, Korea Selatan merupakan negara yang berhasil menekan penyebaran COVID-19 dengan menggunakan rapid test berbasis PCR tersebut.

Oleh sebab itu, terkait pendanaan test cepat berbasis PCR Berry menjelaskan, sejak Instruksi Presiden untuk memperluas jaringan laboratorium penyedia tes Covid berbasis PCR kini ada dua belas Laboratorium yang ditunjuk pemerintah sesuai Ketetapan Menteri Kesehatan no 182/2020 untuk mengerjakan uji diagnostik berbasis PCR.

Walaupun seluruh pembiayaan yang timbul dari pelaksanaan tugas jejaring laboratorium Pemeriksaan COVID-19 dibebankan pada DIPA masing-masing laboratorium, namun birokrasi keuangan memerlukan waktu.

“Sehingga sesuai KMK tadi, sebaiknya lembaga yang ditunjuk dapat menggunakan sumber dana lain yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Dia memerinci, dana operasional diperlukan agar laboratorium dapat bekerja optimal. Oleh sebab itu, IYS menyusun sejumlah rekomendasi bagi pemerintah dalam pengelolaan anggaran uji coba rapid test.

Rekomendasi pertama untuk satu bulan ke depan perlu dilakukan minimal 10 ribu tes cepat berbasis PCR dalam kurun waktu test 1x24 jam dan akan diperlukan biaya sebesar Rp20 miliar untuk mendukung terlaksananya tes laboratorium rujukan sesuai instruksi Presiden. Kebutuhan mendesak untuk mengucurkan dana insentif tersebut sejalan dengan skema Permenkes 59 tahun 2016 tentang pembebasan biaya pasien penyakit infeksi emerging tertentu, dimana termasuk di dalamnya ada komponen pemeriksaan penunjang diagnostik dan laboratorium, maupun dana swadaya dari masyarakat lainnya.

Secara rinci, komponen utama pembiayaan untuk; Pengadaan kit untuk ekstraksi RNA, Pengadaan alat ekstraksi RNA robotic, Pengadaan reagen kit PCR, Piranti keselamatan teknisi laboratorium (APD, masker, disposable reagents), Swab collection tools and viral transport media (VTM), dan kelengkapan lain yang berkaitan dengan kegiatan BSL-2.

Rekomendasi kedua, Indonesian Young Scientists Forum merekomendasikan rapid tes berbasis PCR untuk beberapa golongan masyarakat yakni; PDP Pasien yang sudah ada di rumah, para tenaga kesehatan, ODP Pasien dengan riwayat kontak erat dan mulai menunjukkan gejala, orang-orang yang tergolong berisiko COVID-19 berdasarkan tracking sederhana oleh telemedicine sesuai rujukan atau rekomendasi dari DokterSehat, Alodokter, Halodoc, SehatQ, KlikDokter, Good Doctor Technology Indonesia, ProSehat, Link Medis Sehat, Klinikgo, Perawatku.id, Aveecena, dan Docquity. Selanjutnya adalah individu mandiri yang menginginkan kepastian status infeksi.

Guna menjaga keberlangsungan tes PCR cepat maka IYS Forum merumuskan skema pembiayaan bisa didanai. Pertama, untuk PDP biaya ditanggung oleh pemerintah pusat. Kedua, biaya tes ODP ditanggung oleh pemerintah pusat dan pemerintah dearth. Ketiga, biaya tes bagi orang dengan risiko tinggi ditanggung oleh pemerintah daerah dan biaya mandiri. Keempat, individu mandiri ditanggung oleh dana mandiri baik perorangan maupun perusahaan.

“Dengan dana insentif yang disediakan oleh pemerintah, kami optimis Indonesia dapat melakukan 10 ribu tes dalam 1 bulan, dengan hasil tes dikeluarkan dalam tempo 1x24 jam per tes, dengan melibatkan universitas, litbang pemerintah dan pihak swasta yang dapat mendukung proyek ini,” terang Berry.

Rekomendasi ketiga, IYS Forum merekomendasikan agar pemerintah pusat bersama-sama dengan akademisi, sektor bisnis, pemerintah dan seluruh komponen masyarakat (ABGC) untuk menyiapkan fasilitas karantina dan diagnostik cepat berbasis PCR sampai tingkat kecamatan.

Tiga rekomendasi ini telah mendapat dukungan secara individu dari para peneliti Indonesia. Ada 42 ilmuwan yang ikut merekomendasikan hal ini antara lain; Dr. Ahmad Rusdan Handoyo Utomo dari PT. Kalbe Farma, Dr. Akhmad Sabarudin dari Universitas Brawijaya, Dr. Ari Winasti Satyagraha dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Dr. Aiyen B. Tjoa dari Universitas Tadulako, Dr. Arli Aditya Parikesit dari I3L, Dr. Azzania Fibriani dari ITB, Dr. Beben Benyamin dari Australian Centre for Precision Health, University of South Australia, lalu Dr. Berry Juliandi dari IPB, Dr. Davin H. E. Setiamarga dari National Institute of Technology, Wakayama College, Jepang, Prof. Deni Noviana dari IPB, Dr. Dwinita Larasati dari ITB, Prof. Felycia Edi Soetaredjo dari Universitas Kristen Widya Mandala, Fabian Surya Pramudya ST. dari The Chinnese University of Hongkong, Hongkong, Dr. Fenny Martha Dwivany dari ITB, Dr. Firman Witoelar Kartaadipoetra dari ANU Australia.

Beberapa ilmuwan lain yakni; Dr. Hasnawati Saleh dari Universitas Hasanuddin, Dr. Hawis Maddupa dari IPB, Prof. Husin Alatas dari IPB, Dr. Husna Nugrahapraja dari ITB, Dr. Inaya Rakhmani dari UI, Dr. Ines Atmosukarto dari ANU di Australia, Dr. Iqbal Elyazar dari Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, Prof. Jamaluddin Jompa dari Universitas Hasanuddin, Prof. Ketut Adyana dari ITB, Prof. Ketut Wikantika dari ITB, 26. Dr. Mohammad Ikbal Borman dari Universitas Tadulako, Dr. Mohamad Rafi dari IPB, Dr. Muhammad Aziz dari The University of Tokyo, Dr. Neni Nurainy dari PT. Biofarma, Dr. Rino R Mukti dari ITB, Dr. Sastia Prama Putri dari Osaka University, Dr. Sri Fatmawati dari ITS, Dr. Sonny Mumbunan dari UI, Dr. Suharyo Sumowidagdo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr. Sudirman Nasir dari Universitas Hasanuddin,  Dr. Tatas Hardo Panintingjati Brotosudarmo dari Universitas Ma Chung, Dr. Tri Rini Nuringtyas dari UGM, Dr. Tuswadi dari Politeknik Banjarnegara, Dr. Yanuar Nugroho dari CIPG, Dr. Yosmina Tapilatu dari P2LD LIPI, Dr. Yudi Darma dari ITB, Dr. Yuni Krisnandi dari UI, dan Dr. Yoga Divayana dari Universitas Udayana.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

blt
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top