Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Boeing Ikut Merana Akibat Virus Corona

Boeing menjelaskan dukungan federal akan mencakup likuiditas publik dan swasta, termasuk jaminan pinjaman.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 19 Maret 2020  |  10:00 WIB
Boeing 737 MAX yang merupakan pesawat buatan Boeing yang paling banyak diminati. - Boeing
Boeing 737 MAX yang merupakan pesawat buatan Boeing yang paling banyak diminati. - Boeing

Bisnis.com, JAKARTA - Produsen burung besi global, Boeing Co. mengajukan proposal bantuan uang tunai kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) senilai US$60 miliar yang akan dipergunakan bagi keberlangsungan perusahaan dan pemasoknya selama pandemik virus corona atau Covid-19.

Boeing menjelaskan dukungan federal akan mencakup likuiditas publik dan swasta, termasuk jaminan pinjaman. Saat ini rincian proposal sedang diperbaiki, tetapi sebagian besar dana akan mengalir melalui Boeing kepada pemasok komponennya.

Permohonan bantuan dari Boeing semakin menggarisbawahi tekanan pada industri penerbangan yang bergulat dengan krisis terdalamnya. Terutama dengan jangka waktu pandemik yang masih belum bisa dipastikan.

"Boeing tidak akan bertahan tanpa bailout pemerintah," kata Bill Ackman, analis dari Pershing Square Capital Management, seperti yang dilansir dari Bloomberg pada Kamis (19/3/2020).

Boeing mengatakan hal ini akan menjadi salah satu cara terpenting bagi maskapai, bandara, pemasok, dan produsen untuk menjembatani pemulihan.

“Dana dibutuhkan untuk mendukung kesehatan industri penerbangan yang lebih luas, karena dari setiap dukungan likuiditas untuk Boeing akan digunakan untuk pembayaran kepada pemasok untuk menjaga kesehatan rantai pasokan,"jelas manajemen.

Saat ini Boeing sedang menyiapkan diri dari sejumlah gangguan yang berkepanjangan dari virus yang juga terancam meluas ke pabriknya, dengan beberapa karyawannya telah terinfeksi.

Selain itu, virus corona telah memperlambat pemulihan program 737 Max yang terlibat dalam dua kecelakaan mematikan. Pembuat pesawat yang berbasis di Chicago telah menghentikan produksi Max pada Januari sambil menunggu regulator mencabut larangan terbang global yang mencapai batas satu tahun pada 13 Maret.

Selain itu klausul kontrak yang memungkinkan pembeli untuk membatalkan pesawat yang tertunda lebih dari setahun setelah tanggal pengiriman juga dapat memukul Boeing. Boeing pun terancam diminta mengembalikan uang muka yang telah dilakukan.

Analis Bank of America Corp Ron Epstein menuturkan saat ini Boeing berusaha menghindari PHK dan melindungi rantai pasokannya yang rapuh.

Untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan tahun ini yang mencakup kesepakatan senilai US$4,2 miliar untuk mengambil alih Embraer SA Brasil, Boeing telah merencanakan untuk menerbitkan hutang jangka panjang atau surat berharga di pasar pembiayaan.

Boeing tercatat memiliki US$6,1 miliar surat berharga komersial pada tanggal 31 Desember, dan US$9,6 miliar untuk revolving credit line agreement per 31 Januari yang diajukan kepada komisi sekuritas dan bursa Amerika Serikat.

Perusahaan baru saja menarik pinjaman US$13,8 miliar untuk meningkatkan cadangannya.

Berdasarkan Bloomberg, saham pabrikan pesawat tersebut telah jatuh sebesar 72 persen sejak puncaknya pada 12 Februari 2020 dan menghapus sekitar US$141 miliar nilai pemegang saham. Senada, dengan periode yang sama, kompetitor Boeing di Eropa, saham Airbus SE, telah turun 64 persen.

Permintaan perjalanan juga semakin rendah karena penumpang mengikuti peringatan kesehatan untuk mengisolasi diri di rumah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing Virus Corona
Editor : David Eka Issetiabudi
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top