Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

GP Jamu: Sertifikasi Cara Produksi Obat Tradisional Bakal Meningkat

Ketua Umum GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi mengatakan baru sekitar 40 persen anggota yang baru mendapatkan sertifikasi CPOTB.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 04 Maret 2020  |  20:04 WIB
Petugas menyortir rempah-rempah di Pusat Saintifikasi dan Pelayanan Jamu (PSPJ) di Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra
Petugas menyortir rempah-rempah di Pusat Saintifikasi dan Pelayanan Jamu (PSPJ) di Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (17/1/2019). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Jamu (GP) Jamu menyebut masih sedikit perusahaan yang mendapatkan sertifikasi cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB). Namun demikian, meningkatnya minat ekspor oleh pabrikan jamu kecil dinilai dapat menggenjot  pemilikan sertifikat CPOTB tersebut.

Ketua Umum GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi mengatakan baru sekitar 40 persen anggota yang baru mendapatkan sertifikasi CPOTB. Adapun, Ranny mencatat jumlah anggota pada akhir tahun lalu mencapai 900 unit pabrik  jamu.

"Untuk full CPOTB butuh biaya besar karena harus merubah bangunan," katanya kepada Bisnis, Rabu (4/3/2020).

Ranny menambahkan mismatch antara  tingginya biaya CPOTB dan tingginya minat ekspor industri jamu membuat asosiasi meminta pembentukan jenjang CPOTB pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Alhasil, BPOM membagi tiga jenjang CPOTB bagi industri jamu dalam bentuk sertifikat.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga berencana memberikan insentif berupa jasa konsultasi penyelesaian sertifikasi CPOTB bagi industri kecil. GP Jamu mencatat Kemenperin memberikan konsultasi sertifikasiCPOTB pada 30 unit industri jamu.

 "Itu biayanya Rp100 juta per pabrik kalau pakai konsultan [biasa]. Tahun ini, [pabrikan jamu] bisa mengajukan lagi, tapi itu diseleksi," ucapnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan Kemenperin telah melakukan pembinaan kepada industri obat tradisional untuk memenuhi standar good manufacturing process (GMP) atau cara membuat obat tradisional yang baik (CPOTB).

Namun, Khayam menilai ke depan, peran riset dan pengembangan untuk inovasi produk atas bahan baku yang tersedia di tanah air akan menjadi prioritas. Peran lembaga riset dan perguruan tinggi, sambung dia, juga harus ikut serta meningkatkan pengembangan industri tradisional tersebut.

"Sejalan dengan terbukanya pasar, kebutuhan inovasi menjadi bagian pengembangan industri obat tradisional ini," ujarnya

Khayam mendata saat ini sudah ada lebih dari 1.200 pelaku industri jamu. Dari jumlah itu, sekitar 129 pelaku usaha masuk dalam kategori industri obat tradisional (IOT).

Selebihnya, jelas Khayam, merupakan industri berskala usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang terklasifikasi menjadi Usaha Menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

obat tradisional industri jamu
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top