Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cari Mitra Pertashop, Pertamina Utamakan Lembaga Desa

Pertamina menargetkan dari 7.196 kecamatan di Indonesia, sebanyak 3.827 kecamatan yang belum memiliki lembaga penyalur akan dibangun satu gerai Pertashop.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  14:08 WIB
Petugas SPBU mengisi BBM kendaraan di daerah Sumsel. - Dok. Istimewa
Petugas SPBU mengisi BBM kendaraan di daerah Sumsel. - Dok. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pertamina (Persero) mencari mitra dalam bisnis Pertashop guna memperluas penyalur di sejumlah kecamatan di Indonesia yang saat ini belum memiliki lembaga penyalur.

Pertamina menargetkan dari 7.196 kecamatan di Indonesia, sebanyak 3.827 kecamatan yang belum memiliki lembaga penyalur akan dibangun satu gerai Pertashop. Kemitraan dibuka kepada pemerintah desa, koperasi, serta pelaku usaha atau UKM di seluruh Indonesia.

Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas’ud Khamid akan memprioritaskan lembaga desa sebagai pengelola Pertashop, sejalan dengan Program Pertamina One Village One Outlet, sehingga pemerintah desa memiliki pusat ekonomi baru.

"Pertashop akan menghadirkan produk dengan harga dan kualitas dijamin sama. Melalui konsep ini, kami harapkan keberadaan Pertamina makin terasa manfaatnya dalam menyebarkan energi baik dengan harga dan kualitas terjangkau," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/2/2020).

Konsep Pertashop, kata Mas’ud, memiliki tiga kategori yakni Gold, Platinum dan Diamond. Pertashop jenis Gold berkapasitas penyaluran 400 liter per hari dengan luasan lahan yang dibutuhkan sekitar 144 meter2. Kriteria untuk jenis ini adalah untuk lokasi dari desa ke SPBU, lebih dari 10 kilometer atau sesuai dengan hasil evaluasi. 

Sementara itu untuk jenis Platinum berkapasitas penyaluran 1.000 liter per hari, dengan kapasitas tangki penyimpanan 10 kl dan membutuhkan lahan seluas 200 meter2 dan lokasinya di kecamatan yang belum terdapat SPBU. Sementara jenis Platinum berkapasitas penyaluran 3.000 liter per hari, memiliki tangki timbun 10 KL, luas lahan 500 meter2 dan berlokasi di kecamatan yang belum terdapat SPBU.

“Pertamina mengembangkan dua pola investasi, pertama, Pertamina yang berinvestasi dan desa yang menjalankan atau desa yang melakukan investasi dan ada rasio pembagian keuntungan,” jelasnya.

Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas Bumi menyebutkan sebanyak 1.600 kecamatan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) belum memiliki penyalur BBM satu harga.

Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa menyebutkan dari data yang dikonsolidasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dari 2.352 kecamatan 3T di Indonesia, sebanyak 1.600 kecamatan belum terdapat penyalur BBM.

"Ini baru kecamatan, belum lagi masuk ke desa. Jadi masih banyak wilayah 3T yang belum ada penyalur semacam pertashop," ungkapnya.

BPH Migas menargatkan pada 2020–2024 akan dibangun sebanyak 330 lembaga penyalur. Dengan demikian, masih terdapat 1.270 kecamatan 3T yang belum memiliki lembaga penyalur.

Ifan menjelaskan, sebagai jalan keluarnya akan dibangun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mini di setiap kecamatan 3T yang belum memiliki penyalur.

Adapun, untuk satu unit SPBU mini tersebut dibutuhkan investasi senilai Rp150 juta, sehingga investasi yang akan dikeluarkan untuk 1.270 kecamatan adalah senilai Rp190 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina
Editor : Rio Sandy Pradana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top