Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Bebani Penerbangan Global US$29 Miliar

Penghentian sementara perjalanan dinas dari perusahaan dan keseluruhan permintaan untuk penerbangan, terjadi setelah isu virus corona menyebar dengan cepat.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 21 Februari 2020  |  08:16 WIB
Maskapai Air Canada - tradearabia.com
Maskapai Air Canada - tradearabia.com

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan perjalanan udara global akan menurun untuk pertama kalinya sejak 2009 akibat wabah virus corona, menurut  Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA).

Penghentian sementara perjalanan dinas dari perusahaan dan keseluruhan permintaan untuk penerbangan, terjadi setelah isu virus corona menyebar dengan cepat. Akibatnya, operator penerbangan pun menunda layanan atau secara drastis mengurangi layanan penerbangan dari dan menuju China.

Dampak virus corona pada permintaan akan membebani maskapai penerbangan secara global lebih dari US$29 miliar yang sebagian besar beroperasi di kawasan Asia-Pasifik, menurut estimasi IATA.

Maskapai penerbangan China sendiri akan kehilangan pendapatan US$12,8 miliar karena wabah tersebut. IATA memperkirakan pertumbuhan permintaan pada tahun 2020 sebesar 4,1 persen direvisi menjadi kontraksi 0,6 persen.

Prediksi itu berdasarkan asumsi bahwa virus sebagian besar masih terkonsentrasi di China, tetapi IATA memperingatkan dampaknya bisa lebih besar jika menyebar ke pasar lain di wilayah tersebut seperti dikutip CNBC.com, Jumat (21/2/2020).

Organisasi itu memperkirakan tren penurunan permintaan membentuk kurva “V” atau sama seperti yang terjadi selama wabah SARS pada 2003 yang ditandai dengan penurunan enam bulan dan pemulihan yang sama cepatnya.

“Ini adalah masa yang menantang bagi industri transportasi udara global. Menghentikan penyebaran virus adalah prioritas utama. Maskapai mengikuti panduan Organisasi Kesehatan Dunia dan otoritas kesehatan publik lainnya untuk menjaga keselamatan penumpang, dunia terhubung, dan virus menyebar, ”kata CEO IATA, Alexandre de Juniac dalam rilisnya.

Sementara itu, situs IATA, www.iata.org melaporkan dalam skenario yang sama, operator di luar Asia-Pasifik diperkirakan menanggung kerugian pendapatan sebesar US$1,5 miliar dengan asumsi hilangnya permintaan terbatas pada pasar yang terhubung dengan China.

Kondisi tersebut, menurut situs itu, akan membawa total pendapatan global yang hilang menjadi US$29,3 miliar.

Sebagai catatan, pendapatan penumpang 5 persen lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan IATA pada bulan Desember tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

iata virus corona
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top