Virus Corona: Bank Sentral di Asia Hadapi Tekanan Pangkas Suku Bunga

Bank-bank sentral di Asia menghadapi seruan yang menggema untuk memangkas suku bunga, di tengah krisis virus corona (coronavirus) yang memorak-porandakan pariwisata kawasan ini.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  09:52 WIB
Virus Corona: Bank Sentral di Asia Hadapi Tekanan Pangkas Suku Bunga
Seorang pebisnis melintasi kantor bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia) di Sydney. - Reuters/Jason Reed

Bisnis.com, JAKARTA – Bank-bank sentral di Asia menghadapi seruan yang menggema untuk memangkas suku bunga, di tengah krisis virus corona (coronavirus) yang memorak-porandakan pariwisata kawasan ini.

Pada Senin (3/2/2020), People's Bank of China (PBOC) memangkas suku bunga dan menyuntikkan likuiditas besar-besaran ke dalam sistem keuangan untuk menopang pasar.

Kemudian pada Selasa (4/2/2020), Gubernur Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa bank sentral Jepang ini, jika diperlukan, tidak akan ragu untuk mengambil tindakan guna mengatasi dampak virus tersebut terhadap ekonomi.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyatakan telah mengambil langkah-langkah "berani" untuk menopang mata uang dan obligasi negara.

Asia, yang terdampak wabah virus ini karena ketergantungannya pada permintaan dan wisatawan dari China, memiliki sejumlah bank sentral dengan ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Meski demikian, bank sentral Australia tetap mempertahankan suku bunganya pada Selasa (4/2) karena berpandangan masih terlalu dini untuk menentukan seberapa lama dampak wabah virus corona akan berlangsung pada ekonomi China.

Reserve Bank of Australia (RBA) menyatakan akan terus memantau perkembangan terkait wabah ini dan tetap siap untuk melonggarkan kebijakan moneter jika diperlukan.

Berikutnya adalah Thailand. Semakin kencang seruan agar pembuat kebijakan Bank of Thailand (BOT) melakukan pemangkasan suku bunga acuannya pada Rabu (5/2/2020). Namun sejauh ini tidak ada konsensus yang melihat langkah tersebut.

Sebaliknya, bank sentral Filipina Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) diantisipasi akan memangkas suku bunga acuannya pada Kamis (6/2/2020). Negara Asia Tenggara ini telah melaporkan kematian pertama akibat virus corona di luar China.

Selain BSP, Reserve Bank of India (RBI) juga dijadwalkan akan menetapkan kebijakan moeneternya pada Kamis (6/1). Lonjakan inflasi baru-baru ini diperkirakan akan membuat RBI mempertahankan kebijakannya. Tapi beberapa ekonom berpikir RBI harus mengambil tindakan pada pertemuan mendatang demi memacu ekonomi yang goyah.

Sementara itu, risiko pertumbuhan semakin meningkat karena China memberlakukan pembatasan perjalanan dan maskapai-maskapai penerbangan di seluruh dunia menangguhkan layanan mereka ke negara berekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Bloomberg Economics memperkirakan bahwa meskipun wabah virus mematikan itu berumur pendek, pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) kuartal pertama China akan mencapai rekor terendah 4,5 persen.

Ekonom China dari UBS Group AG, Tao Wang, bahkan memperkirakan penurunan pertumbuhan menjadi 3,8 persen. Adapun Priyanka Kishore, kepala penelitian India dan Asia Tenggara di Oxford Economics Ltd. berpandangan risiko penurunan pertumbuhan telah meningkat.

"Risiko penurunan pertumbuhan telah meningkat secara substansial dalam jangka pendek, terutama untuk negara-negara yang lebih berorientasi pariwisata seperti Thailand,” papar Priyanka, dilansir Bloomberg.

Bahkan sebelum wabah virus ini meluas, indeks manufaktur mensinyalkan awal yang goyah untuk tahun ini karena perjanjian perdagangan AS-China gagal meningkatkan sentimen.

Purchasing Managers Index (PMI) Korea Selatan, barometer utama permintaan global, turun menjadi 49,8 pada Januari dari 50,1 pada Desember.

Di Thailand, pembatasan perjalanan oleh China telah memukul industri pariwisata, yang berkontribusi sekitar 20 persen dari ekonomi. Pertumbuhan Thailand sendiri sudah menerima pukulan dari kekeringan dan penundaan pengeluaran pemerintah.

Pekan lalu, bank sentral Thailand mengisyaratkan akan memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini.

“Bank-bank sentral perlu melakukan sesuatu untuk membantu meningkatkan kepercayaan,” ujar Burin Adulwattana, kepala ekonom di Bangkok Bank Pcl.

“Kita dulu berpikir aliran pendapatan dari pariwisata akan membantu mendorong perekonomian tahun ini meskipun penggerak lainnya lemah. Kini pendorong itu hilang. Satu kali pemangkasan [suku bunga] mungkin tidak cukup tahun ini tergantung pada tingkat keparahan pandemi [virus corona],” tambahnya.

Bank of Korea (BOK), yang akan mengadakan pertemuan pada 27 Februari, telah terlebih dahulu merespons wabah virus macam ini. Pada Juni 2015, BOK menurunkan suku bunga acuannya selama wabah MERS yang akhirnya merenggut lebih dari 30 nyawa di Negeri Ginseng.

Di sisi lain, Bank Indonesia, yang memangkas suku bunga acuan sebanyak empat kali pada 2019, telah meningkatkan intervensi di pasar obligasi dan mata uang pada Senin (3/2) guna membendung pelemahan dalam nilai tukar rupiah.

Wakil Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan BI terbuka untuk tindakan kebijakan lebih lanjut karena menilai dampak dari wabah virus, dan "pemanfaatan ruang pelonggaran di masa depan akan dilakukan pada waktu yang tepat".

David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia di Jakarta, mengatakan jika situasinya memburuk, pemerintah dapat memilih untuk merangsang ekonomi melalui kebijakan fiskal yang lebih agresif.

“Karena masih ada keraguan mengenai efektivitas pelonggaran moneter di tengah permintaan pinjaman yang kurang bergairah,” terang David.

Di Singapura, yang telah mengonfirmasi lebih dari 20 kasus virus corona, pihak otoritas bersiap untuk pukulan ekonomi yang mungkin lebih buruk daripada wabah SARS pada tahun 2003.

Pemerintah Singapura telah menghentikan perjalanan dari China, yang berkontribusi sekitar 20 persen turis asing untuk Singapura.

Sejumlah ekonom, termasuk dari JP Morgan Chase & Co. dan Citigroup Inc., melihat kemungkinan lebih tinggi bahwa bank sentral Monetary Authority of Singapore (MAS) akan melonggarkan kebijakannya pada bulan April.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga, virus corona

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top