Serap Emisi Karbon, Indonesia Kembangkan Tanaman Rotan dan Bambu

Indonesia berkomitmen untuk terus mengembangkan komoditas bambu dan rotan sebagai salah satu upaya dalam pengendalian iklim.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 11 Desember 2019  |  12:32 WIB
Serap Emisi Karbon, Indonesia Kembangkan Tanaman Rotan dan Bambu
Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong (kedua dari kanan) dalam acara COP 25 di Madrid, Spanyol, Selasa (10/12/2019). - Dok. KLHK

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia berkomitmen untuk terus mengembangkan komoditas bambu dan rotan sebagai salah satu upaya dalam pengendalian iklim.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong saat bertemu Direktur Jenderal International Bamboo and Rattan Organization (Inbar) Ali Mchumo di Madrid, Spanyol, Selasa (10/12/2019) waktu setempat.

Alue menuturkan tidak hanya menyerap dan menyimpan karbon, namun juga merehabilitasi lahan yang terdegradasi. Setidaknya, 1 hektare (ha) tanaman bambu dapat menyerap 50 ton karbon dioksida setiap tahun. 

"Bisa juga diolah menjadi produk yang berkualitas dan berestetika tinggi," jelasnya seperti dikutip dalam siaran pers, Rabu (11/12/2019).

Sementara itu, Ali Mchumo menyatakan sebagai Dirjen Inbar yang baru, dia merasa perlu ada kerja sama yang lebih erat dan luas dengan Indonesia. Pasalnya, Indonesia memiliki bambu dan rotan yang sangat potensial.

Indonesia, lanjut Ali, merupakan anggota yang sangat penting dalam kerangka kerja sama selatan-selatan (KSS). "Indonesia dapat menjadi pemimpin dalam KSS untuk pengembangan bambu dan rotan karena Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar dalam kerangka KSS," tegasnya.

Di banyak negara, menurut Ali, rotan mengalami penurunan potensi bahkan sudah punah. Untuk itu, diperlukan upaya untuk membangkitkan lagi rotan di negara-negara anggota INBAR.

Ali pun berpendapat Inbar perlu membuka kantor di Indonesia sebagai penghubung di kawasan Asia Pasifik karena baru ada satu perwakilan Inbar di Asia, yaitu di India.

Mengenai hal ini, Alue menyebut guna menjajaki kemungkinan pembukaan kantor Inbar di Indonesia sekaligus mengembangkan kedua komoditas tersebut, perlu dilakukan studi komparasi di China yang merupakan negara produsen bambu terbesar di dunia sekaligus mengunjungi kantor pusat Inbar di Beijing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perubahan iklim, klhk

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top