Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dunia Usaha Tunggu Pemain Baru Avtur

Rencana pemerintah untuk membuka kesempatan perusahaan swasta menjual avtur di Indonesia disambut positif oleh pelaku usaha. Hal tersebut dinilai akan berdampak positif dalam peningkatan daya saing.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 08 Desember 2019  |  14:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pemerintah untuk membuka kesempatan perusahaan swasta menjual avtur di Indonesia disambut positif oleh pelaku usaha. Hal tersebut dinilai akan berdampak positif dalam peningkatan daya saing.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menuturkan, pihaknya merespon baik rencana pemerintah yang mengizinkan perusahaan swasta turut berjualan avtur di Indonesia. Pasalnya, saat ini penjualan avtur masih dimonopoli oleh Pertamina.

Dengan kehadiran pihak swasta, ia mengatakan akan terjadi persaingan harga yang membuat pasar avtur menjadi lebih kompetitif. Hal ini nantinya diharapkan akan  berdampak pada penurunan harga tiket pesawat yang merupakan komponen utama dalam industri pariwisata Indonesia.

Ia menjelaskan, saat ini harga tiket pesawat di Indonesia tidak kompetitif. Penerbangan berdurasi satu hingga dua jam pada low cost carrier (LCC) di Indonesia masih terbilang mahal bila dibandingkan dengan rute yang sama di wilayah ASEAN atau Eropa juga.

“Saat tidak ada kompetisi, harga (tiket) akan jadi mahal. Ini menjadi tidak adil, karena nanti yang dirugikan adalah masyarakat,” katanya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada pekan ini.

"Sama-sama penerbangan 1-2 jam LCC (low cost courier), kita lebih mahal. Di mana tidak ada kompetisi," tambahnya.

Adapun hingga kini, sudah ada dua perusahaan yang diberikan kesempatan oleh pemerintah untuk ikut menjual avtur di Indonesia, yakni  PT AKR Corporindo Tbk dan British Petroleum (BP). Namun, kata Hariyadi, hingga kini rencana terebut belum juga terealisasi lantaran terganjal kesepakatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ia mengeluhkan proses kedatangan perusahaan baru pada sektor ini. Padahal, dirinya telah menyampaikan keluhan ini sejak Februari 2019.

"Selama ini terus dihambat, saya duga ada yang mengganjal dari pihak BUMN,” katanya tanpa menyebut BUMN yang dimaksud.

Sebelumnya, pemerintah akan mewujudkan setidaknya ada dua operator yang bisa memasok bahan bakar pesawat (avtur) di Indonesia guna menciptakan harga yang terjangkau.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan mengatakan pemasok avtur tidak bisa hanya dilayani oleh satu pemain. Perlu ada pemain baru agar terjadi kompetisi, sehingga dapat bersaing dalam menciptakan efisiensi.

"(Pemasok) avtur nggak mungkin satu. Nanti kami lihat, paling tidak dua lah, jangan satu," katanya di sela-sela Rapat Kerja Kemenhub, Selasa (3/12/2019).

Luhut menambahkan akan membahas masalah avtur tersebut bersama para pemangku kepentingan. Operator avtur juga diminta untuk melakukan efisiensi biaya operasional agar harga jualnya bisa diturunkan.

Dia mempertanyakan harga avtur yang dijual di negara lain bisa lebih murah dibandingkan dengan di Tanah Air. Adapun, selisih harga avtur nasional dengan Singapura mencapai 35%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

avtur
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top