Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Target Pembangunan Smelter hingga 2022 Diperkirakan Meleset

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan pada 2022 nanti hanya ada 52 smelter yang rampung dibangun atau lebih rendah dari rencana awal sebanyak 68 smelter.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 06 Desember 2019  |  18:24 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan pada 2022 nanti hanya ada 52 smelter yang rampung dibangun atau lebih rendah dari rencana awal sebanyak 68 smelter.

Adapun 52 smelter tersebut terdiri atas 29 smelter nikel, 9 smelter bauksit, 4 smelter besi, 4 smelter tembaga, 2 smelter mangan, dan 4 smelter timbal dan seng. Penurunan proyeksi tersebut karena terdapat sejumlah smelter yang konstruksinya berada di bawah target kurva S.

Smelter yang diproyeksikan tidak mampu rampung sesuai target mencakup smelter nikel dan bauksit. Sementara itu, komoditas lainnya akan rampung sesuai target. 

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengatakan meskipun proyeksi yang sudah berdasarkan evaluasi tersebut dibawah target, tidak menandakan pemerintah gagal dalam melaksanakan penghiliran. 52 smelter yang rampung tersebut telah menunjukkan bahwa penghiliran mineral berkembang dengan baik dan mampu menyerap produk mineral mentah atau yang belum dimurnikan.

Yunus menegaskan, sebanyak 16 smelter tidak dapat rampung sesuai target karena pengerjaan konstruksi yang lambat. Hal tersebut merupakan hal alamiah yang terjadi dalam suatu pembangunan industri.

Adapun rata-rata progres konstruksi smelter tersebut berada di bawah 10%."Masih konstruksi tetapi kami evaluasi kemajuan sangat lambat," katanya, Jumat (6/10/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

smelter Nikel
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top