Kemenperin Dorong Investasi di Pengolahan Bahan Galian Nonlogam

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam mengatakan pihaknya bakal terus mendorong pertumbuhan sektor manufaktur tersebut sejalan dengan kebijakan penghiliran guna meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 08 November 2019  |  17:48 WIB
Kemenperin Dorong Investasi di Pengolahan Bahan Galian Nonlogam
Alat berat dioperasikan di kawasan galian C pedalaman Kecamatan Celala, Aceh Tengah, Aceh, Selasa (28/3). - Antara/Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian menegaskan bakal proaktif mendorong peningkatan investasi di sektor industri pengolahan bahan galian nonlogam guna memperkuat struktur manufaktur nasional dan menghasilkan produk substitusi impor.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam mengatakan pihaknya bakal terus mendorong pertumbuhan sektor manufaktur tersebut sejalan dengan kebijakan penghiliran guna meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri. Langkah itu diharapkan berdampak luas pada kontribusi sektor industri terhadap perekonomian nasional.

Apalagi, jelasnya, Indonesia memiliki kekayaan alam berupa sumber daya mineral atau bahan galian nonlogam yang cukup besar dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Untuk itu, perlu diolah secara optimal sebagai modal dasar pembangunan industri nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (8/11/2019).

Kemenperin mencatat pada triwulan III/2019, kontribusi industri bahan galian nonlogam terhadap industri pengolahan mencapai 2,98% dengan ekspor lebih dari US$1 miliar.

Pada periode yang sama, Khayam mengatakan nilai investasi industri bahan galian nonlogam mencapai Rp6,49 triliun.

“Kemenperin proaktif mendorong peningkatan investasi di sektor industri pengolahan bahan galian nonlogam.”

Salah satu subsektor yang sedang dipacu, sambung Khayam, adalah industri refraktori yang hasil produknya digunakan sebagai pelapis untuk tungku, kiln, insinerator, dan reaktor tahan api pada industri semen, keramik, kaca dan pengecoran logam.

Menurutnya, saat ini kebutuhan nasional terhadap produk refraktori mencapai 150.000-200.000 ton per tahun. Sementara itu, industri dalam negeri memasok kebutuhan tersebut sebesar 50.000 ton per tahun.

“Industri refraktori merupakan industri padat modal yang membutuhkan bahan baku dari sumber daya alam,” ungkap Khayam.

Khayam pun mengapresiasi terbentuknya Asosiasi Industri Refraktori dan Isolasi Indonesia (Asrindo). Kemenperin pun berharap Asrindo bisa menjadi mitra terdepan pemerintah untuk bersama-sama dapat menekan nilai impor.

Selain itu, pemerintah dan asosiasi bisa memperkuat kerja sama antar anggota industri refraktori di dalam negeri khususnya dalam memperkuat rantai pasok.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri logam dasar, manufaktur

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top