PLN Kembali Meraup Global Bond

Setelah sukses dengan Samurai Bond, obligasi dalam mata uang Yen Jepang, PT PLN (Persero) kembali sukses dalam menerbitkan global bond.
Fahmy Radhi
Fahmy Radhi - Bisnis.com 07 November 2019  |  13:07 WIB
PLN Kembali Meraup Global Bond
Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi (kiri) didampingi Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies Marwan Batubara memberi paparan dalam diskusi publik bertajuk "Batu bara untuk Siapa?", di Jakarta, Rabu (21/2/2018). - JIBI

Setelah sukses dengan Samurai Bond, obligasi dalam mata uang Yen Jepang, PT PLN (Persero) kembali sukses dalam menerbitkan global bond. Kali ini, PLN berhasil meraup dana senilai US$1,5 miliar atau sekitar Rp 21,7 triliun dengan tenor jangka panjang dan tingkat bunga (coupon) rendah, serta perluasan basis investor di pasar Eropa dengan mata uang dolar Amerika Serikat dan euro. 

Transaksi Global Bond itu dilaksanakan pada 5 November 2019, yang debt securities-nya akan dicatatkan di Singapore Stock Exchange.

Global bond itu ditetapkan harganya pada 30 Oktober 2019 dalam 3 tranche, yaitu US$500 juta dengan tenor 10 tahun 3 bulan dan coupon 3.38%, US$500 juta dengan tenor 30 tahun 3 bulan dan coupon 4,38%,  dan €500 juta dengan tenor 12 tahun dan coupon 1,88%. Selain itu, Global bond itu juga berhasil memperoleh kupon dan beban pinjaman yang sangat kompetitif, bahkan bunganya merupakan yang paling rendah sejak pertama kali PLN menerbitkan surat utang hingga saat ini.

Keberhasilan dalam menerbitkan global bond dengan bunga rendah akan memberikan kontribusi terhadap usaha PLN untuk mebekan harga pokok penyediaan (HPP) listrik, menekan risiko likuiditas, dan memaksimalkan financing portfolio profile (profil portofolio keuangan) PLN. Menurut Direktur Keuangan PLN Sarwono, pemilihan tenor yang berjangka panjang dan berbeda dalam waktu jatuh tempo merupakan salah satu strategi PLN dalam menata likuiditas dan maturity profile, serta sesuai dengan karakteristik investasi sektor listrik yang umumnya jangka panjang

Dana global bond itu merupakan pelengkap dari dana internal PLN dan penyertaan modal negara (PMN) yang tersedia sepanjang 2019. Perolehan global bond itu untuk membiayai investasi pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, utamanya untuk menuntaskan pencapaian target pemerintah menuju 100% rasio elektrifikasi pada di 2020, termasuk menerangi kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Keberhasilan PLN menerbitkan global bond untuk kesekian kalinya membuktikan bahwa investor global mempercayai, tidak hanya terhadap pengelolaan keuangan PLN yang senantiasa dikelola secara prudent, tetapi juga mempercayai fundamental ekonomi dan sustainable pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Di luar keberhasilan PLN meraup dana global bond, penerbitan surat utang itu memang menambah besaran utang dalam struktur keuangan PLN. Pertanyaannya, mengapa PLN tidak menggunakan sumber dana internal yang dibentuk dari laba ditahan (retained earning) untuk membiayai investasinya? Ada beberapa alasan mengapa PLN harus menerbitkan Global Bond dalam setiap membiayai investasi proyek-proyek PLN.

Pertama, investasi untuk membiayai proyek-proyek PLN, terdiri dari proyek pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, biasanya membutuhkan investasi dalam jumlah yang besar, pengembalian pengeluaran investasi dalam jangka panjang, dan resiko tinggi. Dengan karakteristik investasi proyek PLN tersebut, penggunaan dana sumber internal, utamanya penggunaan laba ditahan, tidak akan mencukupi, sehingga dibutuhkan dana pendamping dari PMN dan utang

Kedua, margin yang diperoleh PLN relatif sangat kecil, dengan profit margin rata-rata sekitar 7% dari total penjualan per tahun. Bahkan, PLN baru mencatatkan margin pada 2008, yang sebelumnya selalu merugi. 

Pada 2015 dana internal PLN (EBITDA dikurangi kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman) hanya sekitar Rp15 triliun per tahun. Padahal, kebutuhan dana untuk membiayai investasi proyek PLN sekitar Rp70 triliun hingga Rp100 triliun per tahun. 

Dalam kondisi tersebut, sulit bagi PLN dalam pembentukan laba ditahan untuk membiayai proyek investasi PLN. Belum lagi, adanya kewajiban bagi PLN untuk membagikan dividen kepada pemegang saham, sehingga mengurangi laba ditahan.

Ketiga, meskipun struktur pasar PLN adalah monopoli, tetapi dalam penetapan tarif, yang membentuk pendapatan ditentukan oleh pemerintah bersama DPR. Sementara penetapan pengeluaran investasi (investment expenditure) dan biaya operasional (operational expenditure), termasuk pengeluaran untuk energi primer, semuanya ditentukan oleh harga pasar, yang sangat berfluktuatif. Dalam kondisi tersebut, sangat wajar kalau PLN tidak dapat menggunakan sepenuhnya sumber dana internal dari laba ditahan.

Kendati menggunakan dana pendamping dari utang, tetapi utang itu sepenuhnya untuk membiayai proyek pembangkit, transmisi, dan distribusi, maka dalam waktu bersamaan akan menambah aset PLN. Dengan demikian, tingkat solvabilitas (rasio utang terhadap aset) dan kualitas utang PLN akan tetap terjaga, sehingga penambahan utang melalui penerbitan global bond tidak perlu dirisaukan.

Keberhasilan PLN dalam menerbitkan global bond selama ini membuktikan bahwa pengelolaan utang PLN sudah benar-benar prudent sehingga dipercaya sepenuhnya oleh investor global dalam setiap kali menawarkan global bond di pasar uang internasional. Tidak mengherankan kalau PLN berhasil kesekian kalinya dalam meraup dana global bond.  (Penulis adalah pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top