Kerugian Akibat Korupsi Tembus Rp200 Triliun, Ancam Pembangunan Nasional

Kerugian akibat tindakan korupsi yang tertangani mencapai angka Rp200 triliun. Tindakan tersebut juga akan mengancam sejumlah rencana pembangunan nasional.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 18 Oktober 2019  |  16:15 WIB
Kerugian Akibat Korupsi Tembus Rp200 Triliun, Ancam Pembangunan Nasional
Selembar kain hitam yang menutupi logo Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersibak saat berlangsungnya aksi dukungan untuk komisi tersebut di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (10/9/2019). - ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA - Kerugian akibat tindakan korupsi yang tertangani mencapai angka Rp200 triliun. Tindakan tersebut juga akan mengancam sejumlah rencana pembangunan nasional.

Berdasarkan hasil riset para ekonom dalam rentang waktu 2001 hingga 2015, angka kerugian akibat tindakan korupsi di Indonesia telah menembus Rp203,9 triliun. Riset tersebut dilakukan oleh sejumlah ekonom dari berbagai instansi.

Proyeksi kerugian korupsi secara keseluruhan minimal berada pada kisaran 2,5 kali dari angka kerugian awal.

Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Rimawan Pradiptyo mengatakan angka tersebut baru mencakup kerugian akibat korupsi yang telah ditangani KPK. 

"Angka real-nya saya yakin akan jauh lebih besar dari Rp200 triliun, karena biaya lain seperti opportunity loss tidak terhitung jumlahnya," katanya saat ditemui di Jakarta pada Jumat (18/10/2019) siang. 

Rimawan menambahkan, tindakan korupsi dapat mengancam tiga sektor pembangunan nasional. Pertama, korupsi akan menghambat pembangunan infrastruktur pendukung.

Dalam Naskah Akademik "Rekomendasi Ekonom Terhadap Pelemahan Penindakan dan Pencegahan Korupsi" yang dikeluarkan para ekonom bersamaan dengan surat terbuka, pendanaan pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak hanya bersumber dari APBN.  Setidaknya, ada 15 proyek infrastruktur yang diinisiasi oleh pemerintah menggunakan skema  private-public partnership (PPP).

Skema ini memungkinkan pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta dan diharapkan membawa keuntungan bersama bagi kedua pihak. Untuk pihak swasta yang mendasarkan keputusan investasi berdasarkan kepastian keuntungan dari proyek, korupsi menjadi salah satu faktor yang memberikan 
ketidakpastian bagi pebisnis dan mengurangi daya tarik dari suatu proyek.

Sektor kedua yang akan terhambat adalah pembangunan SDM. Pembangunan SDM yang akan menjadi fokus pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin amat vital untuk menopang perekonomian. Hal ini semakin penting karena Indonesia tengah memasuki era digital dan ekonomi nilai tambah tinggi.

Korupsi terbukti menghambat pembangunan sumber daya manusia melalui sejumlah indikator seperti tingginya angka putus sekolah dan kematian bayi.

Selain itu, korupsi juga diketahui berdampak seperti halnya pajak regresif pada anggota masyarakat, yakni fasilitas publik akan sulit diakses oleh masyarakat yang relatif tidak mampu, sebagai dampak dari suap maupun praktik KKN lainnya.

Praktik korupsi juga akan berdampak pada efisiensi APBN. Selain mengurangi efektivitas belanja pemerintah, korupsi juga akan membebani APBN dari sisi pemasukan.

Selain membebani APBN pada tingkat pusat, korupsi juga mengakibatkan inefisiensi belanja di tingkat yang lebih rendah, contohnya Pemda. Hal ini terlihat berdasarkan temuan KPK pada 2009 lalu. Secara umum, kerugian negara akibat tindakan korupsi mencapai 35% dari total nilai pengadaan barang dan jasa pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korupsi, ekonomi

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top