Kinerja Impor September 2019 Naik 0,63 Persen

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan impor migas mengalami penurunan 2,36%, sedangkan impor nonmigas naik 1,02%.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Oktober 2019  |  11:24 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja impor September 2019 mencapai 14,26 miliar atau naik 0,63% dibandingkan dengan Agustus 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan impor migas mengalami penurunan 2,36%, sedangkan impor nonmigas naik 1,02%. "Jadi impor migas ini minyak mentahnya mengalami penurunan," katanya saat jumpa pers Selasa (15/10/2019).

Angka impor September 2019 tercatat mengalami penurunan dibandingkan dengan September 2018 sebesar 2,41%. Dia memerinci angka ini secara (mtm) untuk barang konsumsi naik 3,13%, dan secara (yoy) naik 6,09%.

Untuk bahan baku atau penolong, angka impor turun 0,70%, dan secara (yoy) bisa mengalami penurunan 5,91%. Untuk barang modal tercatat naik 4,80% atau secara (yoy) naik 8,91% sebesar US$2,59%.

“Beberapa komoditas yang naik misalnya; serelia, kapal laut dan bangunan terapung, kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik, dan kapas,” jelas Suhariyanto.

Dia memerinci, untuk impor yang mengalamin penurunan pada September 2019 antara lain; binatang hidup, benda dari besi dan baja, tembaga, pesawat dan bagiannya, serta gula dan kembang gula.

Adapun negara yang masih tinggi menjadi sumber impor Indonesia adalah; China, Ukraina, dan Korea Selatan. Beberapa negara yang impornya turun untuk Indonesia adalah Amerika Serikat dan Jepang.

Secara kumulatif, Januari-September 2019, total impor tercatat US$126,12 miliar atau jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya ada penurunan 9,12%. Adapun peran untuk golongan bahan baku penolong dalam impor tercatat 74,10%.

Dia menjelaskan, tren impor masih mengikuti tren-tren tahun sebelumnya di mana berpotensi mengalami kenaikan pada akhir tahun. "Share impor barang konsumsi mencapai 9,86% dengan mengalami peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya," jelasnya.

Sebelumnya, sejumlah ekonom masih memprediksi neraca perdagangan September 2019 akan mencatatkan defisit akibat melemahnya permintaan dari China sebagai dampak perang dagang dan peraturan relaksasi impor barang modal dari Kementerian Perdagangan.

Menurut ekonom Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja, kemungkinan neraca perdagangan September 2019 masih defisit karena perang dagang. Dia menilai, ada pelemahan pertumbuhan ekonomi China yang terlihat dari turunnya konsumsi dan permintaan ekspor dari Indonesia.

“Ada pertumbuhan ekonomi yang melambat di China, yang menyebabkan ada dampak ke permintaan terhadap komoditas,” ujar Enrico, Senin (14/10/2019).

Dia menilai, prediksi defisit itu masih cukup kecil, yakni di bawah US$100 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top