Agens Hayati Efektif Tangani Penyakit Blas

Kementerian Pertanian mendorong petani memanfaatkan penggunaan agens hayati untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Selain ramah lingkungan, agensi hayati mudah diperoleh, bahkan lebih murah dan aman secara ekologis.
Desynta Nuraini
Desynta Nuraini - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  05:21 WIB
Agens Hayati Efektif Tangani Penyakit Blas
Petani - Antara/Subagyo

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian mendorong petani memanfaatkan penggunaan agens hayati untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Selain ramah lingkungan, agensi hayati mudah diperoleh, bahkan lebih murah dan aman secara ekologis.

Hal ini disampaikan Petugas OPT dari Balai Besar Peramalan OPT Jatisari, Kementan, Irwan. Dia menyebut salah satu penyakit yang bisa ditangani dengan agens hayati adalah blas. Penyakit blas adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae. 

Ciri penyakit ini dapat dilihat dari gejala khasnya yakni blas daun berbentuk belah ketupat. Ciri lainnya, menyebabkan warna daun menjadi abu-abu di pusat, dikelilingi warna kuning kemudian coklat di bagian terluar.

Irwan menjelaskan jika blas daun tidak segera ditangani bisa mengakibatkan neck blas atau patah leher. Akibatnya, malai hampa sehingga mengurangi produktifitas. 

"Cara pengendaliannya dengan penggunaan Paenibacillus. Selain aplikasi di persemaian dan pertanaman, paenibacillus juga diaplikasikan pada saat benih belum sebar dengan cara perendaman selama 15 sampai 20 menit," terangnya seperti dikutip dari keterangan pers, Minggu (13/10/2019).

Rusli dari Kelompok Tani Nanjung Jaya, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Ujung Jaya, Sumedang mengungkapkan hamparannya pada 3 tahun lalu merupakan daerah endemis blas dengan tingkat serangan mendekati 30%. 

"Jika serangan blas berkembang menjadi teklik atau patah leher bisa menyebabkan berkurangnya produksi," bebernya.

Untuk mengendalikan penyakit Blas ini dia menggunakan Paenibacillus Polymyxa dengan dosis 5 cc/liter air yang diaplikasikan pada persemaian sekitar usia 2 minggu setelah tanam (MST), 4 MST, 6 MST dan 8 MST.

"Alhamdulillah serangan blas bisa ditekan menjadi 5% dan tidak berkembang menjadi patah leher. Paenibacillus lebih murah dibandingkan dengan fungisida," tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
petani

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top