Pariwisata Masih Tersandera Tarif Penerbangan

Sayangnya, target kunjungan wisatawan mancanegara yang telah direvisi menjadi 18 juta orang tetap sulit tercapai, kendati pemerintah telah mencanangkan program 10 Bali Baru.
Rio Sandy Pradana, Puput Ady Sukarno, & Hendra Wibawa
Rio Sandy Pradana, Puput Ady Sukarno, & Hendra Wibawa - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  16:32 WIB
Pariwisata Masih Tersandera Tarif Penerbangan
Menhub Budi Karya Sumadi saat membuka diskusi panel yang diselenggarakan Bisnis Indonesia bertajuk Polemics and Prospects of the Aviation Industry: Airfares, Competition, and Efficiency pada Rabu 25 September 2019. - Bisnis/Rio Sandy Pradana

Kementerian Pariwisata telah memasang target pada 2019 bisa menggaet 20 juta turis asing. Namun, target kunjungan turis asing tersebut akhirnya dikoreksi menjadi 18 juta orang seiring banyaknya peristiwa bencana alam yang melanda negeri ini.

Peristiwa bencana alam berupa gempa bumi terentang dari Tanjung Lesung, Banten hingga sejumlah destinasi wisata andalan Indonesia seperti Pulau Lombok hingga Palu.

Sayangnya, target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang telah direvisi menjadi 18 juta orang tetap sulit tercapai, kendati pemerintah telah mencanangkan program 10 Bali Baru.

Hal itu merujuk terganggunya salah satu faktor pendukung ekosistem pariwisata, yakni aksesibilitas, menyusul tingginya harga tiket pesawat di Tanah Air.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Kementerian Pariwisata Hiramsyah S. Thaib menyatakan kenaikan tarif pesawat udara yang terjadi awal Januari tahun ini menyebabkan turunnya kunjungan wisatawan hingga 25%.

“Kami bicara straight forward saja, yaitu turun dari biasanya. Target kami tahun ini kan 18 juta,” kata Hiramsyah dalam focus group discussion yang digelar Bisnis Indonesia, Rabu (25/9).

Pada dasarnya, menurutnya, kinerja pariwisata sangat bergantung kepada tiga hal, yakni atraksi, amenitas, dan akses.

Atraksi umumnya terdiri atas budaya, alam, dan buatan manusia. Dari sisi atraksi, Indonesia sangat kaya dan tidak ada tandingannya di seluruh dunia. Buktinya, Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan 800 etnis suku, sehingga hampir tidak ada negara lain di dunia ini yang bisa menyamai kelebihan tersebut.

Untuk amenitas adalah segala fasilitas penunjang pariwisata yang dibutuhkan oleh wisatawan, mencakup hotel, restoran, maupun sarana lain yang digarap oleh sektor swasta.

Dan, aksesibilitas yang meliputi bandara dan maskapai penerbangan, kini menjadi perhatian utama pemerintah, karena dinilai masih banyak kekurangan.

Dia berpendapat industri penerbangan perlu mendapatkan perhatian khusus, karena belum bisa terpadu untuk mendongkrak pertumbuhan sektor pariwisata di Tanah Air.

Menurutnya, penerbangan dengan konektivitas rutenya harus dilihat sebagai jembatan udara. Jembatan udara juga bisa masuk dalam bagian dari infrastruktur yang harus diregulasi karena berdampak luas terhadap masyarakat. Sayangnya, saat ini harga tiket khususnya rute domestik menjadi permasalahan utama.

Bahkan, Hiramsyah tidak ragu menyebutkan realisasi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara 2019 tidak bisa mencapai target yakni sebesar 18 juta orang, salah satunya dipicu lonjakan tarif penerbangan.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : industri penerbangan
Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top