Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Kayu Bulat Tergerus Lemahnya Permintaan

Melemahnya permintaan kayu olahan dari pasar ekspor turut menggerus kinerja produksi log atau kayu bulat sebagai bahan baku. 
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 19 September 2019  |  10:33 WIB
Pekerja menata potongan kayu Sengon atau Albasia di depo penampungan kayu Desa Kalibanger, Gemawang, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (4/1/2019). - ANTARA/Anis Efizudin
Pekerja menata potongan kayu Sengon atau Albasia di depo penampungan kayu Desa Kalibanger, Gemawang, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (4/1/2019). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA — Melemahnya permintaan kayu olahan dari pasar ekspor turut menggerus kinerja produksi log atau kayu bulat sebagai bahan baku. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengatakan, produksi kayu bulat selama periode Januari—Juli 2019 tercatat 25,20 juta meter kubik (m3 ), sedangkan produksi kayu bulat periode yang sama pada 2018 sebesar 26,1 juta m3 . 

“Dari Juli tahun ini dengan Juli tahun lalu turunnya 3,6 persen,” ujarnya kepada Bisnis, baru-baru ini. 

Penurunan produksi ini, kata Purwadi, disebabkan oleh permintaan industri kayu olahan yang lesu akibat naiknya eskalasi perang dagang Amerika Serikat dengan China. “Terutama kayu alam karena permintaan dunia untuk plywood yang sebagian besar gunakan kayu alam sedang turun terus,” tuturnya.

Sayangnya, harga kayu lapis [plywood] tengah jatuh dengan kisaran US$400 per meter kubik. Harga yang jatuh ini pun mengakibatkan serapan kayu log yang rendah. 

Purwadi menyebut, ada sekitar 14 juta m3 tegakan pohon yang harusnya bisa diproduksi, tetapi karena harga yang rendah, pengusaha memilih untuk tidak melakukan panen. “Jadi, seperti masalah yang berputar.” 

Dari data yang dimiliki APHI, pada semester I/2019 ditemukan tren penurunan nilai ekspor untuk sejumlah produk kayu seperti kayu lapis. Nilai ekspor kayu lapis pada semester I/2019 sebesar US$2,05 miliar atau turun 16 persen dari periode yang sama pada 2018 sebesar US$2,25 miliar. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hutan kayu
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top