Investasi Pembangkit Listrik Biomassa di Mentawai Capai Rp154 Miliar

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat asal Amerika Serikat, Millenium Challenge Corporation (MCC), membangun PLTBm Siberut senilai Rp154 miliar.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 17 September 2019  |  19:50 WIB
Investasi Pembangkit Listrik Biomassa di Mentawai Capai Rp154 Miliar
Petugas PT PLN (Persero) sedang melakukan persiapan peresmian PLTBm di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. - Bisnis/Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, PADANG — Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat asal Amerika Serikat, Millenium Challenge Corporation (MCC), membangun PLTBm Siberut senilai Rp154 miliar.

Pemanfaatan teknologi dengan menggunakan bambu sebagai bahan bakar pembangkitan merupakan yang pertama di Indonesia. 

Adapun PLTBm Siberut tersebut terdiri atas tiga unit yang melistriki tiga desa. Daerah yang dilistriki, yakni Desa Madobag dengan kapasitas PLTBm terpasang 300 kW untuk melistriki 579 pelanggan, Desa Matotonan 150 kW ke 266 pelanggan, dan Saliguma 250 kW untuk 388 pelanggan.

Menteri PPN/Bappenas Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan pembangkit tersebut merupakan bentuk hibah dari MCC. Setelah proyek berhasil dibangun, pembangkit kemudian diserahkan ke Perusahaan Daerah Kepulauan Mentawai untuk dikelola. 

Perusda Kepulauan Mentawai kemudian menjual listrik ke PT PLN (Persero) sebelum dialirkan ke masyarakat. 

Bambang mengakui butuh waktu lama untuk mengalirkan listrik ke masyarakat Pulau Siberut. Namun, dia berharap listrik yang berhasil disuplai untuk masyarakat tersebut mampu berguna, terutama mendukung kegiatan anak-anak Pulau Siberut dalam proses belajar. 

"Kami minta maaf, karena listrik baru bisa ada sekarang," katanya, Selasa (17/9/2019).

Direktur Utama Perusda Kepulauan Mentawai Kamsar Sitanggang mengatakan akan membeli bambu masyarakat untuk menjadi energi utama PLTBm Siberut. Setidaknya, harga beli bambu yang sudah dicincang dipatok senilai Rp700 per kilogram (kg).

Sebagai pengoperasian pertama, 240 kg bambu digunakan untuk dapat menjadi bahan bakar pembangkitan selama 1 jam. Semakin lama pembangkit beroperasi, kebutuhan bambu akan semakin menurun dengan estimasi paling sedikit 150 kg. 

Bambu diolah dengan dibakar sehingga menghasilkan gas yang menjadi penggerak turbin untuk menghasilkan listrik. Sementara itu, waktu pengoperasian pembangkit hanya bisa dilakukan selama 12 jam sembari menunggu peningkatan kebutuhan dari masyarakat. 

Targetnya, pada 2021, pembangkit tersebut baru bisa menyuplai listrik selama 24 jam. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
energi terbarukan, bambang brodjonegoro

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top