Penurunan PMI Manufaktur Tekan Kinerja Impor Bahan Baku/Penolong

Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor bahan baku/penolong terkontraksi 18,06 (yoy) dan 8,17% (mtm).
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 16 September 2019  |  22:38 WIB
Penurunan PMI Manufaktur Tekan Kinerja Impor Bahan Baku/Penolong
Ilustrasi.

Bisnis.com, JAKARTA — Penurunan Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur turut menekan impor bahan baku/penolong dan pada Agustus 2019.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor bahan baku/penolong terkontraksi 18,06 (yoy) dan 8,17% (mtm).

Nilai impor bahan baku/penolong per Agustus 2019 mencapai US$10,35 miliar, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai US$11,27 miliar dan jauh lebih rendah dibandingkan Agustus tahun sebelumnya yang mencapai US$12,63 miliar.

Secara kumulatif yakni mulai Januari hingga Agustus 2019, impor bahan baku/penolong juga menunjukkan angka penurunan sebesar 10,7% (yoy) apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontraksi impor bahan baku/penolong terkontraksi paling dalam apabila dibandingkan dengan kontraksi impor barang konsumsi dan barang modal yang masing-masing secara kumulatif juga terkontraksi sebesar 10,47% (yoy) dan 5,72% (yoy).

Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal mengatakan bahwa PMI Manufaktur terus menurun di bawah 50,0 pada dua bulan terakhir.

Terbukti, PMI Manufaktur pada Juli dan Agustus 2019 masing-masing berada di angka 49,6 dan 49,0.

"Kontraksi industri manufaktur pada 2 bulan terakhir bukan hanya disebabkan oleh pelemahan permintaan ekspor, tetapi juga pelemahan permintaan domestik," ujar Faisal, Senin (16/9/2019).

Penurunan impor bahan baku/penolong ditambah dengan penurunan indeks PMI manufaktur pun disimpulkan sebagai pertanda kuat bahwa industri manufaktur sedang menurunkan produksinya.

Meski demikian, Faisal mengatakan bahwa penyebab dari penurunan impor serta menurunnya indeks PMI manufaktur masih belum dapat dipastikan.

Namun, melemahnya kinerja ekspor impor dalam beberapa waktu terakhir dapat dipastikan bakal berdampak kepada pendapatan masyarakat baik mereka bergelut di bidang ekspor impor serta masyarakat kelas bawah akibat tertekannya harga komoditas.

Penurunan pendapatan pada akhirnya akan turut menekan permintaan barang dan jasa oleh masyarakat sehingga pada akhirnya akan turut menekan permintaan terhadap produk manufaktur.

"Sejauh ini sudah mulai terlihat indikasinya, tapi belum terlalu signifikan," ujar Faisal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top