Pelaku Usaha Migas Sepakat Tingkatkan Efisiensi

Pemangku kepentingan di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) sepakat mendorong efisiensi di berbagai lini sebagai upaya meningkatkan daya saing dan keekonomian industri migas nasional.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 09 September 2019  |  09:20 WIB
Pelaku Usaha Migas Sepakat Tingkatkan Efisiensi
Dua pekerja memeriksa proses pengolahan Crude Palm Oil (CPO) menjadi Green Gasoline (bahan bakar bensin ramah lingkungan) dan Green LPG secara co-processing di kilang PT Pertamina (persero) Refinery Unit (RU) III Sungai Gerong, Banyuasin, Sumatra Selatan, Jumat (21/12/2018). - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA—Pemangku kepentingan di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) sepakat mendorong efisiensi di berbagai lini sebagai upaya meningkatkan daya saing dan keekonomian industri migas nasional.

Tekanan harga minyak dunia bukan satu-satunya penyebab efisiensi perlu dihadirkan dalam industri yang menyumbangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terbesar ini.

Untuk mendorong efisiensi, kolaborasi antara pemerintah dan investor perlu dihadirkan. Louise McKenzie, Pejabat Presiden IPA, mengamini bahwa kolaborasi perlu terus dilanjutkan antara pemerintah dan investor. 

Dia mengatakan investor memiliki banyak tantangan yang berbeda-beda, dan pemerintah mau mendengarkan dan mengambil tindakan yang cepat untuk mencari solusi.

"Saya pikir ada banyak hal yang sedang berjalan saat ini, semua berkumpul bersama sebagai langkah yang konstruktif. Hal yang menarik tentang Indonesia adalah ada begitu banyak potensi," katanya, baru-baru ini.

Dalam salah satu forum diskusi di IPA Convex 2019, Director Regional Exploration Eastern Hemisphere Repsol David Ramos mengatakan ekplorasi harus dilakukan untuk memastikan produksi berjalan baik.

Hanya saja, dia mengakui bahwa investor akan selektif memilih proyek yang bisa mendatangkan keuntungan.

Repsol pun berkomitmen untuk mempertahankan investasi eksplorasi dengan mempertimbangkan volatilitas industri migas. Indonesia menjadi salah satu fokus kegiatan eksplorasi untuk perusahaan yang menjadi operator di Blok Sakakemang tersebut.

"Menjadi selektif sesuai keahlian kami. Kami juga memperkuat posisi di Sumatra Selatan dan memutuskan Indonesia sebagai pusat investasi di Asia Tenggara" katanya.

Di tengah harga minyak dunia yang dianggap belum terlalu berpihak kepada investor, SKK Migas punya ambisi mengembalikan kejayaan industri migas nasional, dengan meningkatkan produksi hingga 1 juta barel per hari (bph).

“Sekarang dengan target lifting pemerintah 775.000 bph, kami harapkan tahun depan tidak ada penurunan target, sehingga tetap sama seperti tahun ini. Ini menjadi tantangan bagi kami,” tutur Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, akhir pekan lalu.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
migas

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top