Pasokan FAME Belum Cukup untuk B50 pada Akhir 2025

Penerapan mandatori biodiesel 50 persen (B50) pada akhir 2020 dihadapkan pada potensi kurangnya pasokan unsur nabati atau fatty acid methyl ester (FAME).
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 06 September 2019  |  18:03 WIB
Pasokan FAME Belum Cukup untuk B50 pada Akhir 2025
Ilustrasi bahan bakar Biodiesel B20 - Reuters/Mike Blake

Bisnis.com, JAKARTA — Penerapan mandatori biodiesel 50 persen (B50) pada akhir 2020 dihadapkan pada potensi kurangnya pasokan unsur nabati atau fatty acid methyl ester (FAME).

Apabila mandatory B50 jadi berlaku pada akhir 2020 sesuai yang ditargetkan pemerintah, Kementerian ESDM pun berencana untuk melakukan pencampuran dengan kombinasi green diesel dan FAME. 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengungkapkan produksi FAME sebagai campuran solar untuk memproduksi biodiesel saat ini hanya memiliki kapasitas 11 juta kiloliter (KL) per tahun dari produksi 19 pabrik. Adapun prediksi kebutuhan FAME untuk B20 sebanyak 6,2 juta KL pada tahun ini dan akan meningkat jadi 9,6 juta KL untuk B30 pada 2020.

Apabila, sampai akhir 2020 nanti belum ada penambahan kapasitas produksi, maka pemanfaatan green diesel sebagai campuran B50 kemungkinan dilakukan. 

Menurutnya, tidak ada perbedaan dalam pencampuran B50 dengan menggunakan FAME maupun green diesel atau lebih dikenal dengan B100. PT Pertamina (Persero) pun sudah mulai melakukan produksi green diesel dengan kapasitas 500 liter hingga 1.000 liter.

Green diesel memiliki sifat fisik dan kimia sama dengan solar sehingga tidak terlihat perbedaannya. Produk tersebut merupakan minyak nabati yang ditambah dengan alkohol.

Adapun biodiesel berasal dari campuran FAME yang diproduksi dengan mencampur minyak sawit dan metanol. 

"Kita dari sisi produksi sudah ada yang investasi pengembangan pabrik FAME baru, apakah B50 khusus biodiesel atau tidak [dicampur dengan green diesel], tidak ada yang bisa menjawab," katanya, Kamis (5/9/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Biodiesel

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top