RI Laporkan Perkembangan Proyek Transportasi Laut pada Sidang ke-38 Asean Maritime

Pertemuan dihadiri oleh perwakilan 10 negara Asean dan empat negara Asia, a.l. China, India, Jepang, dan Korea Selatan, serta perwakilan dari IMO, Sekretariat Asean, dan FASA.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 24 Agustus 2019  |  15:55 WIB
RI Laporkan Perkembangan Proyek Transportasi Laut pada Sidang ke-38 Asean Maritime
Kapal pandu menunggu kapal yang akan bersandar di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (15/7/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia kembali melaporkan dan membahas perkembangan proyek-proyek transportasi laut pada sidang ke-38 Asean Maritime Transport Working Group (AMTWG) di Singapura.

Beberapa tindak lanjut proyek itu terdiri atas pelabuhan-pelabuhan yang akan dijadikan pilot project di Indonesia, yaitu standard nonkonensi (NCVS), sertifikat kompetensi kepelautan, pengembangan 14 pelabuhan di Indonesia, pengembangan cruise ship terminal, rencana pengembangan pelabuhan Sri Junjungan, perkembangan Marine Environment Protection of the South East Asian Seas (MEPSEAS), dan IMO Member States Audit Scheme (IMSAS).

“Indonesia menyampaikan juga perkembangan proyek kapal nonkonvensi di perbatasan Nunukan-Tawau, pelatihan dan pengawasan VTS, dry port, green port, kerja sama Asean dengan China, Jepang, India dan Korea Selatan, dan Regional Oil Spill Contingency Plan,” tutur Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Wisnu Handoko dalam siaran pers, Sabtu (24/8/2019).

Indonesia juga mengusulkan agar membentuk subkomite untuk membahas lebih lanjut area berisiko sama tahap awal di Selat Malaka.

“Dalam sidang ASEAN MTWG ke-38, tiga negara pantai, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura menyepakati pemberlakuan same risk area dalam implementasi Ballast Water Management Convention khususnya artikel 13.3 circular untuk penerapan same risk area yang akan dibuat oleh ketiga negara dan dijadikan pedoman bagi petugas PSC di ketiga negara,” ujar Wisnu.

Kapal- kapal yang diberikan pengecualian terhadap regulasi adalah kapal-kapal yang hanya beroperasi di wilayah yang ditentukan dan tidak berlaku bagi kapal luar negeri yang masuk wilayah yang ditentukan. Saat ini, Indonesia sedang menyiapkan konsep circular tersebut.

Pertemuan dihadiri oleh perwakilan 10 negara Asean dan empat negara Asia, a.l. China, India, Jepang, dan Korea Selatan, serta perwakilan dari IMO, Sekretariat Asean, dan FASA.

Adapun pertemuan AMTWG ke-38 secara rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun guna menindaklanjuti kelompok kerja subsektor transportasi laut pada pertemuan sebelumnya.

Selanjutnya, Thailand akan menjadi tuan rumah pertemuan berikutnya yang akan dilaksanakan Februari 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asean

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top