Impor Bahan Baku dari China Picu Defisit Neraca Dagang

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ada sejumlah bahan baku makanan asal China yang menambah beban impor Juli 2019.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  13:35 WIB
Impor Bahan Baku dari China Picu Defisit Neraca Dagang
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (9/4). - Antara/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ada sejumlah bahan baku makanan asal China yang menambah beban impor Juli 2019.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, pada rilis neraca perdagangan Juli 2019, nilai impor Indonesia mencapai US$15,51 miliar.

Dia juga menyebut bahwa nilai impor ini mengalami kenaikan 34,96% (m-t-m).

Namun impor tersebut sebenarnya masih turun 15,21% (y-o-y) dari Juli 2018 sebesar US$18,30 miliar.

Adapun penyebab defisit, kata Suhariyanto, karena tingginya sejumlah komoditas masuk ke Indonesia berasal dari China. Misalnya, bawang putih, komponen air conditioner, buah-buahan Longan, sampai kepiting beku atau frozen crab.

Selain itu, bahan baku juga mengalami kenaikan karena kenaikan impor bahan baku guna menggerakkan industri dalam negeri.

"Ini ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan besar," jelasnya di Kantor BPS, Kamis (15/8/2019).

Misalnya handphone tanpa baterai dari China dan Hong Kong. Impor dari beberapa negara lain misalnya kedelai asal Brasil dan Argentina hingga kapas asal AS yang impornya meningkat.

BPS merincikan, nilai impor nonmigas Juli 2019 tercatat US$13,76 miliar. Nilai ini naik 40,72% sebesar US$3,98 miliar dibandingkan dengan Juni 2019 (m-t-m).

Adapun peningkatan terbesar dialami oleh golongan mesin pesawat mekanik sebesar US$901,6 juta atau 52,22%. Angka ini diikuti oleh golongan mesin dan peralatan listrik US$635,4 juta atau 52,88%.

Untuk besi dan baja tercatat US$419,7 juta atau 79,43%, plastik dan barang dari plastik US$261,5 juta atau 45,03%, serta kendaraan dan bagiannya sebesar US$135,3 juta atau 25,24%.

Golongan yang mengalami penurunan impor adalah aluminium sebesar US$122,0 juta atau 43,29%, lalu barang perhiasan dan permata sebesar US$60,6 juta turun 24,41%, serelia US$36,8 juta atau 15,79%, kendaraan bermotor atau komponen terbongkar US$15,8 juta atau 32,31%.

Sementara itu, untuk golongan susu, mentega, telur adalah US$9,7 juta atau 11,77%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
impor

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top