Ingin Dorong Manufaktur, Indonesia Masih Terkendala Minimnya Investasi

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyatakan untuk mendorong industri manufaktur Indonesia masih terkendala dengan minimnya investasi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  11:07 WIB
Ingin Dorong Manufaktur, Indonesia Masih Terkendala Minimnya Investasi
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyampaikan hasil-hasil Forum Pembiayaan Infrastruktur dalam konferensi pers Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, JAKARTA -- Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menyatakan untuk mendorong industri manufaktur Indonesia masih terkendala dengan minimnya investasi.

Dia mengenang pada masa lalu investasi di Indonesia pernah berada pada masa kejayaan tumbuh 7% sampai 8%. Adapun sumber investasi adalah pihak swasta.

"Ini artinya dengan pertumbuhan itu kemarin hanya tumbuh privat 3,07% separuhnya jadi tantangan kita," jelas Dody di Kantor Bank Indonesia, Senin (12/8/2019).

Dia menjelaskan, porsi investasi jika digabungkan dengan investasi bangunan pun masih lebih banyak investasi untuk infrastruktur ketimbang manufaktur.

"Memang kita tumbuh 5,01% tapi kita juga harus liat investasi yang privat nonbangunan," ungkapnya.

Oleh sebab itu, masih banyak peluang investasi di Indonesia yang perlu diakselerasi. Pertumbuhan investasi yang rendah di Indonesia tak lepas dari permintaan produksi yang masih belun tinggi. Hal ini terkecuali didorong oleh pertumbuhan ekspor.

"Dengan ekspor melambat permintaan produksi berkurang dan otomatis investasi berkurang dan akan menurunkan pendapatan devisa ekspor," terang Dody.

Dia mengingatkan bahwa permintaan domestik tidak terlepas dari kondisi ekspor.

Ke depannya dia berharap tidak hanya melalui kebijakan atau policy mendorong investasi.

Namun perlu mengantisipasi pertumbuhan ekonomi global yang berpotensi mengalami penurunan. Salah satu solusinya BI memperkuat sektor manufaktur unggulan. Misalnya tekstil, otomotif, dan alas kaki.

"Semua negara akan tumbuh dan akan lebih baik dari tahun sebelumnya cuma tidak optimal seperti yang seharusnya. Itu yang tercermin dari outlook pertumbuhan dunia dikoreksi kebawah ke 3,2%," papar Dody.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top