Ekspor Produk Mamin ke Jerman Terkendala Tarif Masuk

Pengenaan tarif masuk menjadi tantangan ekspor produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia ke pasar Jerman.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  10:04 WIB
Ekspor Produk Mamin ke Jerman Terkendala Tarif Masuk
Pekerja di pabrik pengolahan makanan - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Pengenaan tarif masuk menjadi tantangan ekspor produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia ke pasar Jerman.

Duta Besar Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno mengatakan negara ini merupakan pasar utama di Eropa dengan jumlah penduduk sekitar 82 juta jiwa. Selama ini, ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke Jerman masih kalah dari negara Asia Tenggara lainnya.

Malaysia menduduki peringkat satu negara Asean yang banyak mengirim produk makanan dan minuman ke Jerman, diikuti Singapura, Thailand, Vietnam, baru Indonesia.

"Indonesia memiliki banyak produk makanan yang punya daya saing global dan perlu melakukan penetrasi pasar lebih besar lagi. Satu kendala yang cukup besar adalah tarif masuk," ujarnya akhir pekan lalu.

Arif menjelaskan karena Indonesia merupakan anggota dari negara G20, maka dianggap setara dengan Jerman sehingga dikenakan tarif yang cukup tinggi. Produk seafood misalnya, dikenakan tarif masuk sekitar 7%-20%.

Sementara itu, negara Asean lainnya seperti Filipina dan Vietnam tidak masuk anggota G20 dan dianggap negara kategori menengah. Dengan demikian, produk kedua negara ini dikenakan tarif 0% untuk masuk pasar Jerman.

Adapun, sebagai salah satu upaya untuk memperdalam penetrasi produk makanan dan minuman Indonesia ke pasar Eropa, terutama Jerman, pada tahun ini beberapa perusahaan dalam negeri mengikuti pameran Anuga yang diselenggarakan di Cologne, Jerman pada 5--9 Oktober 2019.

Pelaksanaan tahun ini diikuti sebanyak 27 perusahaan Indonesia dan didukung oleh Atase Perdagangan KBRI Berlin, yang menggandeng 9 pelaku industri makanan dan minuman, dan Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Palembang.

Arif mengatakan pihaknya juga mendorong peluang investasi perusahaan Indonesia ke Eropa. Salah satu yang telah melakukan hal ini adalah PT Mayora Indah Tbk., yang memiliki pabrik di Denmark. Menurutnya, selama ini para pemain industri makanan dan minuman belum bergairah untuk berekspansi ke Eropa karena pasar domestik yang sangat besar.

Adapun terkait dengan Pameran Anuga, Kepala Divisi Pameran Kamar Dagang Indonesia--Jerman (Ekonid) Prieta Perthantri mengatakan terjadi peningkatan dalam jumlah partisipasi mandiri sebanyak 17 perusahaan ditambah dengan 9 perusahaan di dalam pavilion Atase Perdagangan KBRI Berlin dan 1 perusahaan dalam binaan pavilion PPI.

"Partisipasi perusahaan Indonesia terbesar berada di segmen fine food atau makanan siap santap dan siap saji, diikuti segmen diary, frozen food, dan drinks," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri mamin

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top