Bagaimanakah Nasib Ekspor Pertanian Indonesia Semester II/2019?

Kinerja ekspor produk pertanian pada semester II/2019 berpeluang terkoreksi atau lebih rendah dari capaian pada tahun lalu lantaran adanya tekanan dari cuaca kemarau kering yang panjang.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  13:56 WIB
Bagaimanakah Nasib Ekspor Pertanian Indonesia Semester II/2019?
Petani merontokkan padi hasil panen di areal persawahan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/10/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -- Kinerja ekspor produk pertanian pada semester II/2019 berpeluang terkoreksi atau lebih rendah dari capaian pada tahun lalu lantaran adanya tekanan dari cuaca kemarau kering yang panjang.

Ketua Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia (AB2TI) yang juga merupakan guru besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa memperkirakan, produk pertanian seperti karet, buah, kopi dan teh dan rempah-rempah cukup rawan terkoreksi produksinya akibat kemarau kering yang melanda Indonesia.

“Semester II/2019 hampir selalu terjadi penurunan produksi sebab pada periode ini biasanya terjadi puncak musim kemarau sekaligus pancaroba. Namun dengan karakter kemarau yang kering tahun ini dan ditambah pula oleh periode kemarau yang diperkirakan lebih panjang, produksi bisa turun dan porsi untuk ekspor juga bisa turun,” jelasnya, ketika dihubungi Bisnis.com, baru-baru ini.

Dia mengatakan, selain terpapar oleh kekeringan, sejumlah komoditas pertanian juga terganggu oleh adanya penyakit yang disebabkan oleh perubahan cuaca. Dia mencontohkan produk karet alam dan kakao yang produksinya terganggu lantaran adanya gangguan dari sisi penyakit tanaman.

Alhasil, dia memprediksi volume dan nilai ekspor produk pertanian Indonesia akan mengalami penurunan pada semester II/2019 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Kendati demikian penurunan ekspor produk tersebut tidak akan terlalu dalam, lantaran sejumlah sentra produksi pertanian, seperti di kawasan Indonesia Timur tidak terlalu terpapar oleh kekeringan yang parah.

“Tahun lalu nilai ekspor semester II/2019 turun dari tahun sebelumnya karena adanya kemarau yang panjang. Namun tahun lalu kemaraunya tidak sekering saat ini, sehingga kalau dilihat dampaknya tentu akan lebih besar tahun ini,” jelasnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan, nilai ekspor produk pertanian pada semester II/2018 mencapai US$2,98 miliar. Capaian tersebut turun dari periode yang sama pada 2017 yang menembus US$3,17 miliar.

Adapun, berdasarkan laporan BPS, komoditas yang masuk dalam kategori produk pertanian a.l. produk pertanian tanaman semusim seperti sayuran dan buah-buahan; pertanian tanaman tahunan seperti kopi, rempah-rempah, kakao, teh dan karet alam; tanaman hias’ peternakan seperti sarang burung, reptil dan ternak lainnya; satwa liar; hasil hutan dari kayu; hasil hutan bukan dari kayu; perikanan tangkap dan perikanan budidaya.

Ketua Umum Dewan Rempah Indonesia Gamal Nasser mengatakan, mengakui terdapat potensi penurunan nilai dan volume ekspor pada semester II/2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dia mengatakan, selain karena gangguan kekeringan di beberapa daerah sentra produksi di Indonesia bagian barat, volume produksi juga terganggu oleh proses peremajaan tanaman yang dilakukan oleh para petani.

“Bisa jadi turun [volume dan nilai] ekspornya di paruh kedua tahun ini. Beruntungnya penurunan secara nilai tidak akan terlalu dalam karena harga komoditas rempah seperti lada dan pala di pasar global masih cukup stabil dan di posisi yang baik,” jelasnya.

Dia mengatakan, Indonesia cukup beruntung lantaran sentra produksi rempah-rempah di Indonesia bagian timur tidak terganggu. Akibatnya, gangguan masa tanam tidak terjadi secara merata.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan, volume ekspor karet alam pada semester II/2019 akan turun  200.000--250.000 ton dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.

Menurutnya, penurunan tersebut disebabkan oleh gangguan penyakit tanaman karet sehingga kualitas dan kuantitas produksi karet mengalami penurunan tajam. Penyakit tersebut, lanjutnya diperparah oleh musim kemarau yang bersifat kering. Apabila kekeringan berlangsung lama, dia khawatir penyakit tersebut akan lebih mudah menyebar.

“Kemarin kami petani karet sudah bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari solusi agar penyakit karet ini tidak meluas. Kendala kami selanjutnya adalah bagaimana caranya agar harga karet tetap tinggi. Sebab, kami khawatir harga karet akan turut mengalami penurunan pada sisa tahun ini,” ujarnya.

Menurutnya, peluang penurunan harga karet di pasar global masih cukup besar lantaran isu kelebihan pasokan masih terus menghantui. Meskipun, lanjutnya, stok di pasar telah berkurang drastis akibat kebijakan pemangkasan volume ekspor oleh negara produsen karet yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia serta adanya gangguan penyakit pohon karet.

“Kalau isu China kelebihan pasokan karet masih kembali muncul. Hancur sudah kinerja ekspor karet kita, karena volume ekspornya anjlok dan nilainya pun turut turun seiring melemahnya harga karet,” tegasnya.

Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Suharyo Husein, gangguan berupa cuaca ekstrem telah mengganggu produksi teh nasional pada tahun ini. Dia khawatir, dengan adanya kemarau yang berlangsung lebih panjang, volume produksi dan ekspor teh akan turun.

“Cuaca ekstrem yang terjadi di Dieng dan beberapa sentra produksi teh, membuat produksi komoditas ini tidak maksimal," katanya.

Menurutnya, produksi teh nasional tahun ini hanya akan mencapai sekitar 130.000 ton di mana 60% dari volume produksi itu diekspor. Dia memperkirakan produksi pada tahun ini turun dari capaian tahun lalu yang sempat mencapai 140.000 ton.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin mengatakan, gangguan masa tanam akibat kekeringan memang terjadi terhadap sejumlah komoditas buah-buahan. Namun, dia melihat untuk buah-buahan andalan ekspor RI, seperti nanas, pisang dan manggis tidak terlalu terpengaruh oleh gangguan cuaca tersebut.

“Kalau untuk sayuran ekspor, seperti buncis, edamame dan produk sayuran lainnya memang cukup terpengaruh oleh kemarau kering yang terjadi saat ini. Namun, porsi komoditas-komoditas itu terhadap ekspor total buah dan sayuran kecil, sehingga pengaruhnya juga kecil,” ujarnya.

Adapun, ketika dimintai tanggapan mengenai kondisi tersebut, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Wisnu Wardhana dan Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono tidak merespon.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top