Pembebasan Lahan LRT Jabodebek Rampung Akhir Agustus

Dirjen Perkeretaapian Zulfikri mengatakan waktu pengoperasian telah diperpanjang dari 2020 menjadi 2021. Pengadaan lahan masih menjadi fokus utama dalam proyek tersebut.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 11 Agustus 2019  |  16:36 WIB
Pembebasan Lahan LRT Jabodebek Rampung Akhir Agustus
Kendaraan melintas di dekat proyek pembangunan Light Rapid Transit (LRT) dan tol layang Jakarta Cikampek, di Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Ditjen Perkeretaapian menargetkan pembebasan lahan yang digunakan untuk proyek kereta ringan atau light rail transit (LRT) Jabodebek bisa tuntas pada akhir Agustus 2019.

Dirjen Perkeretaapian Zulfikri mengatakan waktu pengoperasian telah diperpanjang dari 2020 menjadi 2021. Pengadaan lahan masih menjadi fokus utama dalam proyek tersebut.

“[Pembebasan lahan] yang masih kami kejar di Bekasi Timur dan Kota Bekasi, alhamdulillah sudah lebih dari 65 persen sudah clear. Kami masih optimistis pertengahan atau akhir Agustus ini bisa diselesaikan,” kata Zulfikri, akhir pekan lalu.

Pihaknya menjelaskan lahan untuk depo di Bekasi memang baru di atas 55% yang sudah dibebaskan. Namun, lahan yang sudah tersedia sudah dilakukan proses kontruksi awal berupa pengeboran.

Dia menambahkan permasalahan lahan tidak hanya pada depo di Bekasi, melainkan ada juga trase di Dukuh Atas. Akan tetapi, beberapa bagian sudah selesai dan saat ini sedang dilakukan proses pembangunan dari Setiabudi ke Dukuh Atas.

Pembebasan lahan untuk trase dilakukan juga dari simpang Kuningan sampai ke Cawang. Meskipun banyak lahan yang harus dibebaskan di sepanjang perkantoran, tetapi konstruksi masih bisa dijalankan karena lahan terpakai ada yang di ruang bebas.

Trase di Dukuh Atas, lanjutnya, akan dibuat berdampingan dengan LRT Jakarta yang menyusur di dekat Kali Ciliwung, sedangkan LRT Jabodebek berada di sebelah Landmark Tower. Penataan trase dilakukan agar tidak saling bertumpuk.

Pembangunan LRT Jabodebek fase I membentang dari Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang, hingga Cawang-Dukuh Atas, sepanjang 44,3 km. Perkembangan pembangunan proyek yang dimulai sejak September 2015 ini lamban karena terganjal pembebasan lahan.

Kendati demikian, Zulfikri penyelesaian konstruksi untuk Cawang hingga Cibubur sudah lebih dari 90%. Relasi tersebut akan digunakan untuk uji coba pada September 2019 karena keretanya sudah siap.

“Saat ini sedang menyelesaikan pembuatan temporary pit untuk sarana perawatan sementara,” ujarnya.

LRT Jabodebek yang merupakan proyek strategis nasional senilai Rp22,8 triliun ini akan menggunakan rel ketiga (third rail) seperti pendahulunya LRT Sumatera Selatan. Nantinya, pasokan listrik akan berasal dari rel ketiga, bukan aliran atas seperti KRL Commuter Line Jabodetabek, sehingga menambah daya estetika.

Pihaknya menyebut LRT Jabodebek akan lebih canggih dibandingkan dengan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta yang memiliki tingkat otomatisasi atau Grade of Automation (GoA) 2. Pada level ini, Automatic Train Protection (ATP) dan Automatic Train Operation (ATO) sudah dipakai, tetapi masih membutuhkan masinis.

Zulfikri menuturkan pada LRT Jabodebek sudah tidak ada masinis, sehingga beroperasi penuh secara otomatis. Keberadaan kru di dalam kereta hanya berfungsi saat kondisi darurat.

“Pengoperasian pada 2021 itu sudah ultimate, sebelum itu mungkin Cawang-Cibubur sudah bisa dioperasikan. Seperti LRT Sumatera Selatan yang beroperasi secara bertahap,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
LRT

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top