Ekonomi Global Makin Dekat dengan Risiko Resesi

Perang dagang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan China telah mendorong ekonomi global ke dalam resesi pertamanya dalam 1 dekade terakhir, para investor menanggapi risiko ini dengan menuntut para politisi dan bankir bank sentral bertindak cepat untuk mengubah arah pertumbuhan.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  17:28 WIB
Ekonomi Global Makin Dekat dengan Risiko Resesi
Perkiraan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia 2015-2017. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Perang dagang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan China telah mendorong ekonomi global ke dalam resesi pertamanya dalam 1 dekade terakhir, para investor menanggapi risiko ini dengan menuntut para politisi dan bankir bank sentral bertindak cepat untuk mengubah arah pertumbuhan.

Kemunduran kembali terjadi pada sektor industri Jerman, penggerak ekonomi zona euro, yang mencatatkan penurunan tahunan terbesar dalam hampir 1 dekade dan menggarisbawahi keparahan penurunan manufaktur pada ekonomi terbesar Eropa.

Di kawasan Asia-Pasifik, bank-bank sentral di Selandia Baru, India, dan Thailand melakukan pemotongan suku bunga secara mengejutkan untuk melindungi ekonomi mereka dari angin sakal global.

Menurut mantan menteri keuangan AS dan penasihat ekonomi Gedung Putih, Lawrence Summers, risiko resesi di AS jauh lebih parah dari proyeksi 2 bulan yang lalu.

"Kita bisa bermain dengan api dan beruntung jika hal-hal yang tidak diinginkan berhasil dihindari, tetapi jika terlalu sering, pada akhirnya kamu akan terbakar," ujarnya seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (8/8/2019).

Summers yang juga merupakan profesor di Universitas Harvard berpendapat bahwa ada setidaknya kurang dari 50/50 potensi ekonomi AS memasuki resesi dalam 12 bulan ke depan.

Namun, sikap investor jauh lebih bearish, segmen kurva imbal hasil yang diawasi dengan ketat, selisih antara utang tresuri AS bertenor 10 tahun dan 3 bulan, mengalami inversi paling parah sejak 2007.

Hal ini mengindikasikan bahwa investor telah memiliki gambaran jangka panjang bahwa pelemahan ekonomi akan berlanjut.

Di sisi lain, saham AS mengalami kejatuhan di New York, obligasi mencatatkan reli global, sedangkan safe haven seperti emas dan yen menguat.

Sementara itu, kurva imbal hasil untuk ekonomi AS dan Jerman menunjukkan sinyal peringatan penurunan.

Di saat hubungan perdagangan AS dan China memburuk, bank sentral di berbagai belahan dunia memilih untuk melonggarkan kebijakan suku bunga.

Selain Bank Sentral Selandia Baru yang melakukan pemangkasan suku bunga tidak terduga sebesar 50 bps pada Rabu (8/8/2019), ada pula Thailand yang melakukan penurunan 25 bps, diikuti India dengan penurunan tidak konvensional sebesar 35 bps.

Faktor utama lainnya yang turut mempengaruhi penilaian risiko resesi adalah pasar tenaga kerja yang mengalami pengetatan secara global. Pergeseran sikap bank sentral baru-baru ini seharusnya dapat melindungi para pekerja.

Para ekonom mulai memetakan bagaimana resesi akan terjadi. Satu hal yang paling mereka khawatirkan adalah dampak merusak dari kebijakan tarif dagang.

Dalam satu skenario, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan meneruskan ancaman terbarunya untuk mengenakan tarif 10% pada barang-barang China senilai US$300 miliar, memicu pembalasan dari Presiden China Xi Jinping.

Meskipun beban dari tarif langsung bisa dikatakan tidak terlalu besar, ketidakpastian yang disebabkan dari perang dagang dapat membebani sentimen pada investasi, penerimaan tenaga kerja hingga minat konsumsi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top