Cangkang Kapsul Rumput Laut Berpotensi Dikembangkan di Dalam Negeri

Cangkang kapsul berbahan baku rumput laut berpotensi untuk dikembangkan di dalam negeri dengan budidaya rumput laut yang tersebar di 23 provinsi. Indonesia juga menjadi penghasil rumput laut tropis terbesar di dunia.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 04 Agustus 2019  |  19:40 WIB
Cangkang Kapsul Rumput Laut Berpotensi Dikembangkan di Dalam Negeri
Cangkang kapsul - ristekdikti.go.id

Bisnis.com, JAKARTA—Cangkang kapsul berbahan baku rumput laut berpotensi untuk dikembangkan di dalam negeri dengan budidaya rumput laut yang tersebar di 23 provinsi. Indonesia juga menjadi penghasil rumput laut tropis terbesar di dunia.

Direktur Jenderal Industri Argo Kementerian Perindustrian Abdul Rochim mengatakan dalam pengembangan peningkatan daya saing komoditas rumput pemerintah telah melakukan kerja sama dengan kalangan akademisi di Tanah Air.

Contohnya, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang telah memelopori pengembangan cangkang obat kapsul berbahan baku rumput laut di Indonesia dengan kapasitas 3,6 juta cangkang kapsul per hari.

“Industri cangkang kapsul berbahan baku rumput laut sebagai pengganti gelatin sangat potensial di Tanah Air, karena rumput laut sebagai bahan baku utama sangat melimpah di sepanjang pesisir Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (4/8/2019).

Rochim menyebutkan kebutuhan cangkang kapsul nasional sebanyak 6 miliar butir per tahun. Saat ini, produksi domestik untuk cangkang kapsul berbahan baku gelatin mencapai 5 miliar butir per tahun.

Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan cangkang kapsul dipasok dari Thailand Bangladesh, India, dan China yang dibuat dari gelatin. Bahan baku gelatin sendiri merupakan produksi dari kulit, jaringan, tulang sapi, dan kerbau.

“Kebutuhan cangkang kapsul di dalam negeri saat ini perlu dioptimalkan oleh industri, sehingga cangkang kapsul berbahan rumput laut memiliki potensi yang sangat luar biasa,” tegasnya.

Rochim menambahkan karena potensi rumput laut yang sangat besar, Kemenperin terus mendorong peningkatan produksi di Tanah Air. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, rumput laut juga sudah diekspor ke beberapa negara seperti China, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Berdasarkan data Kemenperin, ekspor rumput laut Indonesia pada 2014 sampai 2018 memiliki tren positif yang naik hingga 0,81%. Pada periode Januari-April 2019, ekspor rumput laut senilai US$92,92 juta atau naik 3,98% dibanding capaian di periode yang sama tahun lalu yang senilai US$89,37 juta.

Ekspor rumput laut Indonesia tertinggi didominasi oleh ekspor rumput laut mentah Euchema spp dalam bentuk kering atau fresh yang dapat dikonsumsi manusia dengan total ekspor pada tahun lalu mencapai US$140,41 juta. Indonesia merupakan penghasil rumput laut kering terbesar di dunia dengan produksi 328.000 ton atau 61,18% total produksi dunia pada 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
farmasi

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top