Investasi Toserba UAE Lulu, Bukti Segmen Ritel Hypermarket Masih Prospektif

Bisnis ritel modern segmen hypermarket rupanya masih memiliki daya tarik tersendiri, kendati bisnisnya dinilai mulai lesu dan ditinggalkan oleh konsumen Indonesia.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  13:29 WIB
Investasi Toserba UAE Lulu, Bukti Segmen Ritel Hypermarket Masih Prospektif
JIBI/Bisnis/Dwi Prasetya TOKO RITEL PERTAMA ASAL UNI EMIRAT ARAB Presiden Joko Widodo (kedua kiri), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani (kiri), Pimpinan Lulu Group Yusuf Ali MA (ketiga kanan), mengunjungi stan buah seusai meresmikan Lulu Hypermarket di Plaza Taman Modern Jalan Raya Bekasi, Cakung, Jakarta Timur, Selasa (31 - 5). Toko ritel tersebut merupakan yang pertama asal Uni Emirat Arab (UEA) di Indonesia dengan area seluas 200.000 m2, dan diperkirakan akan menyerap lebih dari 5.000

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis ritel modern segmen hypermarket rupanya masih memiliki daya tarik tersendiri, kendati bisnisnya dinilai mulai lesu dan ditinggalkan oleh konsumen Indonesia.

Hal itu salah satunya tercermin dari rencana dari Lulu Group International yang mengoperasikan merek Lulu Hypermarket & Department Stores. Korporasi asal Uni Emirat Arab itu, berencana menambah tiga gerai hypermarket baru di Indonesia pada tahun ini.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Bisnis dari Kedutaan Besar Indonesia untuk UEA, Lulu Group akan membuka gerai hypermarket-nya di Galeria Mall Vivo Sentul, Bogor, serta masing-masing satu gerai di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Selatan pada tahun ini.

Gerai baru itu akan menambah dua hypermarket yang telah dibuka oleh korporasi tersebut di Cakung, Jakarta Timur dan BSD City, Tangerang Selatan.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey menilai, Lulu Group memiliki perspektif yang berbeda dibandingkan dengan peritel Indonesia.

Pasalnya, menurut dia, mayoritas peritel lokal Indonesia melihat pola berbelanja masyarakat sudah bergeser dari hypermarket ke segmen minimarket (toko kelontong) dan supermarket (pasar swalayan).

“Untuk kasus Lulu Group, kita harus lihat mereka sebagai perusahaan asing yang mungkin memiliki pandangan berbeda terhadap pasar Indonesia. Mereka bisa saja melihat bahwa sumber daya domestik kita, seperti makanan dan minuman untuk segmen ritel modern sangat besar, sehingga mereka memilih untuk masuk melalui segmen hypermarket,” jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (23/7/2019).

Namun demikian, Roy menilai segmen ritel modern hypermarket masih memiliki potensi yang sangat besar untuk digarap. Meskipun, dia menyadari, beberapa pemain di segmen hypermarket mulai banyak yang berguguran di Indonesia.

Dia memperkirakan, Lulu Group telah memiliki kajian yang mendalam ketika membuka hypermarket di beberapa lokasi tersebut. Salah satunya, lanjutnya, terdapat pada kajian potensi pasar dan sasaran konsumen yang akan dituju di lokasi-lokasi tersebut.

“Lulu Group saya lihat akan menggaet ceruk pasar konsumen yang menyukai leisure dibandingkan dengan berbelanja secara tradisional. Mereka akan menggunakan konsep mixed use, di mana di gerainya akan disediakan beragam wahana hiburan selain fasilitas berbelanja saja,” ujarnya.

Konsep tersebut, menurutnya, masih sangat diterima oleh konsumen Indonesia baik di kota besar maupun daerah tingkat kedua dan tiga seperti kabupaten. Di sisi lain, dia melihat, pemilihan lokasi oleh peritel asal Timur Tengah tersebut menyasar kalangan masyarakat yang tinggal di daerah suburban.

Selain itu dari segi pemilihan target konsumen, Lulu Group diperkirakan olehnya menyasar kalangan menengah ke atas. Segmen konsumen tersebut, menurutnya masih memiliki tingkat daya beli yang kuat di kota-kota besar dan di daerah-daerah suburban.

Di samping, Lulu Group, dia juga melihat masih ada peritel lokal yang masih ekspansif dan melihat peluang pasar yang besar dari segmen hypermarket.

Salah satu peritel itu adalah Transmart Carrefour, yang saat ini aktif menyasar daerah-daerah lapis kedua dan ketiga. Daerah-daerah tersebut menurutnya selama ini pertumbuhan ritel modern segmen hipermarketnya sangat lambat.

“Jadi secara umum, segmen hypermarket ini sebenarnya masih sangat seksi untuk dikembangkan, ketika mereka tahu mana ceruk pasar yang tepat. Transmart menjadi contohnya, ketika mereka bisa melihat daerah lapis kedua dan ketiga sebagai pasar yang potensial dan belum terjamah,” ujarnya.

ISU KELESUAN

Vice President Corporate Communications PT Trans Retail Indonesia Satria Hamid mengakui, ritel modern segmen hypermarket Indonesia sedang dilanda isu kelesuan penjualan dan pertumbuhan bisnis. Namun menurutnya, kondisi itu saat ini tidak terjadi kepada Transmart Carrefour yang saat ini memiliki 130 gerai di seluruh Indonesia.

“Kami masih terus berkembang dan melanjutkan ekpansi menambah gerai. Sebab kami optimistis segmen hypermarket ini masih memiliki pasar tersendiri yang terus berkembang,” ujarnya. 

Dia mengatakan, salah satu kunci pertumbuhan bisnis korporasinya disebabkan oleh ekspansi yang masif di daerah lapis kedua seperti kotamadya dan kabupaten, selain di sejumlah ibukota provinsi.

Dia mengatakan, pada tahun ini Trans Retail akan membuka dua gerai baru di Semarang dan Pangkal Pinang. Dalam waktu dekat, perusahaan juga akan membuka gerai baru di kawasan Indonesia Timur.

“Di daerah tier dua dan tier tiga, sering kali kami jumpai masyarakat harus pergi ke ibukota provinsi atau kota besar terdekat untuk sekedar berbelanja atau menikmati hiburan ala supermarket. Untuk itu, kami masuk ke daerah-daerah itu, untuk mengakses ceruk pasar tersebut, jelasnya.

Consumer Behaviour Expert dan Executive Director Retail Service Nielsen Indonesia Yongky Susilo mengatakan, secara umum bisnis ritel modern segmen hypermarket masih cukup berat untuk berkembang di Indonesia. Namun dia menilai, kondisi itu tidak bisa dipukul rata kepada semua pemain di sektor tersebut.

“Khusus untuk Lulu Group, saya pikir mereka sudah memiliki perhitungan dan format gerai khusus yang disiapkan untuk menggaet konsumen terutama untuk kelas menengah ke atas. Namun, mereka tetap harus berhati-hati dalam berbisnis di sektor ini ke depannya, supaya jangan salah langkah seperti pendahulunya,” katanya.

Dia melanjutkan, fenomena penutupan sejumlah gerai hypermarket baru-baru ini, lebih disebabkan oleh kinerja individu perusahaan yang buruk. Sebab, bagaimanapun juga, menurutnya, masing-masing segmen ritel memiliki fungsi dan pasar masing-masing. 

Terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahya Widayanti mengatakan, pergeseran pola berbelanja dari hypermarket ke supermarket dan minimarket tidak dapat dipukul rata kepada seluruh konsumen.

“Memang pergeseran pola berbelanja masyarakat menjadi salah satu faktor yang menantang sektor ritel modern. Namun, jika masih ada pemain yang bisa berjuang dan meraih untung di segmen tertentu, dalam hal ini hypermarket, tentu sangat bagus,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top