Kasus Duniatex: API Tolak Tudingan Industri Tekstil Indonesia Hadapi Masa Suram

Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengklaim, kondisi industri pertekstilan Indonesia masih berada pada kondisi yang baik dan menunjukkan prospek ekspor yang menjanjikan, kendati terdapat fenomena gagal bayar anak usaha Duniatex.nn 
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  13:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengklaim, kondisi industri pertekstilan Indonesia masih berada pada kondisi yang baik dan menunjukkan prospek ekspor yang menjanjikan, kendati terdapat fenomena gagal bayar anak usaha Duniatex.

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengakui iklim usaha sektor tekstil saat ini belum sempurna. Menurutnya, masih banyak yang bisa dioptimalisasi dari industri pertekstilan, khususnya pada sektor impor untuk konsumsi domestik yang masih berlebihan meskipun barang tersebut sudah di produksi di Tanah Air.

“Namun, menanggapi kasus default salah satu perusahaan tekstil besar di Indonesia, kami mengimbau agar seluruh perusahaan tekstil terbuka (public listed) atau tidak terbuka (private) untuk menerapkan sistem good corporate governance (GCG) yang baik,” ujar Ade dalam pernyataan resminya dari New York yang diterima Bisnis.com, Selasa (23/7/2019). 

Pasalnya, dia menilai kasus yang menimpa anak usaha Duniatex yakni Delta Dunia Sandang Tekstil  tersebut memiliki sejumlah anomali yang perlu dicermati, seperti rating S&P yang berubah dari BB- ke CCC- dalam waktu 4 bulan saja.

Untuk itu, dia meminta seluruh stakeholder dalam sektor tersebut cermat dalam menilai kasus ini sebagai sesuatu yang menggambarkan karakter sebuah individu perusahaan dan bukan potret industri prioritas pemerintah saat ini. 

“Kami sebagai asosiasi yang menaungi visi pengusaha tekstil tanah air bersedia untuk terus memberikan informasi mengenai isu seputar dunia tekstil nasional agar kita bisa bersama-sama membangun industri tekstil Indonesia,” jelasnya.

Dia menambahkan, kondisi tekstil nasional saat ini dalam keadaan baik, dengan nilai ekspor yang ditargetkan tumbuh ke angka US$14,6 miliar pada akhir tahun ini. Menurutnya, meskipun pertumbuhan moderat, namun banyak sekali kesempatan yang dapat dicapai terutama ekspor menuju ke AS yang kini sedang dilanda perang dagang dengan China.

“Selain itu dengan bantuan percepatan perjanjian dagang bilateral, dia meyakini prospek nilai ekspor pun terus meningkat dengan adanya perdagangan bilateral IA-CEPA dan EU-CEPA yang sedang dalam tahap finalisasi,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, anak usaha Duniatex, Delta Dunia Sandang Tekstil baru saja dikabarkan gagal membayar bunga dan pokok surat utang dengan total nilai US$11 juta. S&P Global Ratings pun memutuskan untuk memangkas peringkat utang perusahaan sebesar 6 level.

Sebanyak 10 bank tercatat sebagai kreditur anak usaha Duniatex Group, PT Duta Merlin Dunia Textile (DMDT). J.P Morgan mencatat kredit yang disalurkan oleh bank tersebut DMDT sepanjang 2018 sebesar Rp5,25 triliun dan US$362,3 juta. Sebanyak 58% di antaranya merupakan kredit sindikasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Industri Tekstil, duniatex

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top