Tindaklanjuti Insentif Pajak, Grup Sinar Mas Mulai Gencarkan Pendidikan Vokasi

Pelaku usaha meyambut baik langkah pemerintah yang tengah menggencarkan pendidikan vokasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.  
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  15:54 WIB
Tindaklanjuti Insentif Pajak, Grup Sinar Mas Mulai Gencarkan Pendidikan Vokasi
Ilustrasi pendidikan vokasi. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha meyambut baik langkah pemerintah yang tengah menggencarkan pendidikan vokasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.  

Managing Director Sinar Mas Group G. Sulistiyanto sekaligus Wakil Ketua Pengurus Yayasan Universitas Prasetya Mulya mengatakan, Universitas Prasetya Mulya telah mengimplementasikan pembelajaran dual system.

Sistem tersebut, jelasnya, ditujukan untuk membekali peserta didik dengan pendidikan akademis serta ketrampilan yang selaras dengan karakteristik dan kebutuhan industri terkait.

Adapun, model pendidikan dual vocational education and training yang lazim disebut dual system dapat dipahami lebih mendalam, dan kemudian  direplikasi pada sejumlah lembaga pendidikan vokasi Indonesia yang telah dan akan berdiri.

"Pemerintah telah memfasilitasi dalam bentuk kebijakan hingga insentif, dunia usaha juga telah melakukannya, dan kini, kami mencoba belajar dari praktik terbaik di negara lain," ujarnya, Rabu (17/7/2019).

Untuk diketahui, Universitas Prasetya Mulya menggandeng Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kedutaan Besar RI di Bern, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Eka Tjipta Foundation (ETF), Institut Teknologi dan Sains Bandung (ITSB), Politeknik Sinar Mas Berau (Poltek Simas Berau) bersama Univesitas Prasetiya Mulya serta beberapa perusahaan lain untuk berupaya meningkatkan pendidikan vokasi di Tanah Air.

"Dukungan Sinar Mas dalam pengembangan pendidikan vokasi, diantaranya tampak pada 16 Mei 2019 di Lausanne, Swiss, dengan menandatangani nota kesepahaman bersama Swiss International Technical Connection (SITECO) yang memungkinkan kerja sama di berbagai.”

Melalui kerja sama dengan Swiss tersebut, Poltek Simas Berau akan menerapkan seluruh metode pengajaran dual system dalam program studi Teknologi Rekayasa Logistik, Survei dan Pemetaan, dan Perawatan Mesin. 

"Peresmian politeknik pertama di Kabupaten Berau ini, berlangsung pada 5 April, dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan," katanya. 

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menuturkan, revitalisasi akan terfokus pada lembaga pendidikan vokasi yang telah ada berikut pembenahan kurikulum, fasilitas dan infrastruktur, berikut kualitas tenaga pendidik. 

Hal itu ditujukan agar para lulusan pendidikan tinggi vokasi tidak saja memegang ijazah, tetapi juga memiliki sertifikat kompetensi.

"Jangan sampai para lulusan memiliki ijazah, tapi tidak kompeten. Dengan begitu, nantinya sebelum bekerja, mereka tidak lagi ditanya berasal dari perguruan tinggi mana, tapi cukup ditanya apa sertifikat kompetensi yang dimiliki, ujar Menristekdikti," ucapnya. 

Dalam praktiknya, dual system melibatkan sektor industri dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi yang memadukan pembelajaran teori sebanyak 30% dan 70% berupa praktik di lingkungan kerja, sesuai kebutuhan industri terkait.

Dalam kesempatan yang dama Chairman of Swiss Federal Institute for Vocational Education &Training (SFIVET) Gnaegi Philippe menuturkan hadirnya negara bersama sektor privat akan menghasilkan sistem pendidikan vokasi yang efektif, sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Swiss menjadi mitra penting merevitalisasi pendidikan vokasi di Indonesia disebabkan penerapan dual vocational education and training yang mereka terapkan mampu menghasilkan pekerja usia muda yang produktif sekaligus kompetitif.

Hal itu tercermin dari angka pengangguran pekerja muda yang kecil dan peringkat tertinggi yang mampu dicapai negara ini dalam Global Competitiveness Index lansiran World Economic Forum.

Duta Besar RI, Muliaman D Hadad berharap kualitas dan produktivitas sumber daya manusia tidak menjadi missing link dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia.

Menurutnya, pendidikan vokasi yang dapat menjadi solusi, masih menghadapi beberapa tantangan, seperti masih kuatnya anggapan para orangtua bahwa jalur pendidikan ini hanyalah pilihan kesekian bagi anak-anaknya.

Kemudian, keengganan sektor privat mempekerjakan para lulusan vokasi. Dengan kata lain, ekosistemnya belum terbangun sempurna.

"Langkah China yang tengah mereformasi pendidikan vokasi, diantaranya dengan memfungsikan National Vocational Education Steering Committee ini dapat menjadi referensi di Indonesia," terang Muliaman.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
vokasi

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top