Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Strategi Pengusaha untuk Mengembangkan Desa Wisata di Indonesia

Pelaku usaha di bidang kepariwisataan siap bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan kawasan perdesaan, guna mewujudkan target pembangunan 2.000 desa wisata di Indonesia pada tahun ini.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  15:29 WIB
Sejumlah penari mementaskan tarian Walima saat perayaan Festival Walima di Pesantren Alam Desa Wisata Religius Bubohu, Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. - Antara/Adiwinata Solihin
Sejumlah penari mementaskan tarian Walima saat perayaan Festival Walima di Pesantren Alam Desa Wisata Religius Bubohu, Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. - Antara/Adiwinata Solihin

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha di bidang kepariwisataan siap bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan kawasan perdesaan, guna mewujudkan target pembangunan 2.000 desa wisata di Indonesia pada tahun ini.

Sekjen DPP Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Titus Indrajaya menuturkan pihaknya bersama dengan pelaku pariwisata melakukan pendampingan di setiap desa wisata.

Adapun, pendampingan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk unggulan desa dan mempromosikan desa sebagai objek dan daya tarik wisata. 

Selain itu, pendampingan ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pengelola usaha wisata desa setempat. 

"Kami terus melakukan pemberdayaan potensi desa baik secara ekologi sosial, ekonomi maupun sumber daya manusianya," ujar Titus kepada Bisnis.com, belum lama ini.  

Menurutnya, dengan pendampingan kepada desa wisata juga menjadi ajang pertukaran informasi sehingga dapat saling memperkaya atraksi wisata yang ditawarkan kepada turis agar menarik minat mereka untuk berkunjung. 

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari berpendapat tren wisata saat ini adalah berkunjung ke desa wisata, di mana turis dapat berpartisipasi dalam proses pembuatan kerajinan maupun festival kebudayaan yang dibuat oleh masing-masing desa wisata. 

Untuk itu, lanjutnya, desa-desa wisata di Indonesia harus mengembangkan paket wisata yang ditawarkan, termasuk akomodasi, makanan dan minuman, hiburan, akses, serta layanan transportasi, pergelaran, dan keunikan destinasi.

Dia menambahkan untuk mengangkat destinasi harus memperhatikan keunikan dan autentikasi yang tak didapat di tempat lain. 

“Selama ini pemerintah hanya berfokus pada destinasi wisata yang memiliki keindahan alam saja. Oleh karena itu, dalam pengembangan desa wisata perlu menggandeng para ahli sektor pariwisata dan masyarakat setempat untuk dapat membangun desa wisata.” 

Terpisah, Fouder Desa Wisata Bahasa Borobudur Hani Sutrisno mengatakan setiap bulannya turis yang datang dengan kunjungan singkat rerata mencapai 1.500 orang yang sebagian besar didominasi wisatawan domestik. 

"Kalau yang bukan kunjungan singkat, yang mau belajar bahasa inggris untuk turis domestik. Yang ramai itu saat libur sekolah dan kuliah. Di sini juga ada homestay yang dapat digunakan oleh turis asing juga," ucapnya. 

Desa Bahasa Borobudur ini telah ada sejak 1998 ini sempat mati suri beberapa tahun. Namun pada 2011 kembali aktif dengan semangat dan standar baru. 

Metode pembelajaran khusus yang diterapkan di Desa Bahasa Borobudur membuat belajar berbahasa menjadi lebih gampang dan menyenangkan jauh dari kesan sulit. Dengan teknik listening dan drilling para peserta cukup mendengarkan, menirukan dan mengucapkan. 

Hani mengungkapkan ada sejumlah kendala yang dihadapi oleh desa wisata ini yakni infrastruktur air bersih karena belum adanya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). 

"Pada musim kemarau yang sulit karena kami ngebor tanah terasa air asin seperti air laut," ujarnya.

Selain itu yang dibutuhkan lahan parkir yang dapat menampung para turis dan juga tambahan listrik. 

"Enggak ada yang dukung secara finansial. Kami inginnya punya genset, saat ini yang ada 1.200 watt tetapi itu masih kurang. Kami mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk bisa membeli genset," ucap Hani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pariwisata
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top