Masih Ada Pekerjaan Rumah di Bandara Kertajati

Presiden Joko Widodo pernah berujar bahwa Bandara Internasional Jawa Barat atau biasa disebut Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, bakal menjadi yang terbesar kedua setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  14:11 WIB
Masih Ada Pekerjaan Rumah di Bandara Kertajati
Pekerja membersihkan ruang pengambilan bagasi di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (24/5/2018). - ANTARA/M Agung Rajasa

Presiden Joko Widodo pernah berujar bahwa Bandara Internasional Jawa Barat atau biasa disebut Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, bakal menjadi yang terbesar kedua setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Mimpi Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) untuk memiliki bandara yang mumpuni memang tidak main-main. Luas lahan yang dipersiapkan mencapai 1.800 hektare, menunjukkan gambaran visi jangka panjang dari bandara ini.

Pendirian bandara berkode KTJ ini pada awalnya merupakan inisiatif pemerintah setempat dengan menyiapkan lahan dan kemudian dilanjutkan dengan pembangunan konstruksi landasan pacu (runway) oleh Ditjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, untuk membangun sisi udara.

Adapun, fasilitas awal sisi udara yang telah dibangun mencakup runway sepanjang 2.500 m dan lebar 60 m, landasan parkir pesawat (apron), dan jalan penghubung landasan (taxiway) dengan menggunakan dana APBN. Saat ini, runway sudah mencapai 3.000 m.

Kinerja operasional KTJ yang diresmikan sejak Mei 2018 ini bagaikan roller coaster. Pada awal beroperasi, kurang lebih terdapat 11 rute penerbangan dari dan ke bandara ini.

Namun pada kenyataannya, hanya beberapa rute yang beroperasi karena tingkat keterisian penumpang (seat load factor/SLF) di bawah 30%. Maskapai cenderung memutuskan tidak beroperasi (no ops) daripada menanggung rugi atas biaya operasional penerbangan.

Jarak yang jauh dari Bandung disebut menjadi alasan utama di balik keengganan penumpang untuk terbang dari bandara ini. Jarak tempuhnya bisa mencapai lebih dari 100 km, tanpa ada jalan tol maupun jalur kereta.

Namun, pemerintah langsung gerak cepat untuk mengatasi sepinya operasional di KTJ. Strategi konkret yang telah dijalankan adalah dengan memindahkan seluruh operasional penerbangan domestik rute luar Jawa dari Bandara Husein Sastranegara ke KTJ.

Dan, Voila! Sejak diimplementasikan pada 1 Juli 2019, strategi ini memang secara instan meningkatkan pergerakan pesawat dan penumpang bandara. Tingkat SLF beberapa maskapai diklaim rata-rata menjadi di atas 70%.

Sebut saja Garuda Indonesia Group. Maskapai pelat merah ini mengklaim mampu mencapai SLF lebih dari 85% dengan tingkat ketepatan waktu (on time performance/OTP) 100% pada 6 hari operasional penerbangan di KTJ.

Direktur Utama Garuda Indonesia IGN Askhara Danadiputra mengatakan, capaian tingkat keterisian penumpang tersebut merupakan rerata tingkat keterisian penumpang terhitung sejak 1—5 Juli 2019.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin, selaku operator KTJ, mengklaim bahwa pergerakan pesawat mencapai 30—34 pergerakan per hari, dengan jumlah penumpang mencapai 3.500—4.000 orang per hari. Saat ini maskapai yang beroperasi adalah Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia Indonesia, Lion Air dan Xpress Air.

Aksesibilitas dari dan ke KTJ juga menjadi perhatian utama AP II. Upaya yang dilakukan adalah menyediakan 11 perusahaan operator transportasi publik, untuk menghadirkan kemudahan bagi masyarakat.

Perum DAMRI telah memberikan pelayanan dari dan ke Kertajati selama masa transisi dari 1 Juli 2019 hingga akhir Juli 2019. Sementara itu, operator travel juga ada yang memberikan tarif promo kepada penumpang.

Masalah aksesibilitas ini juga direspons Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR untuk mempercepat progres pembangunan Tol Cisumdawu.

Tol yang memiliki ruas sepanjang 61 kilometer ini akan dapat memangkas jarak Bandung—Kertajati hanya dalam waktu kurang lebih 1 jam.

Secara terpisah, Anggota Ombudsman Indonesia Alvin Lie mengaku belum bisa menyampaikan hasil evaluasi operasional KTJ, seusai dilakukan pemindahan penerbangan tersebut. Proses evaluasi membutuhkan waktu setidaknya sebulan.

Akan tetapi keluhan penumpang, yang diterima Ombudsman, masih sama yakni waktu tempuh Bandung ke KTJ maupun sebaliknya terlalu lama. Butuh waktu hingga 3,5 jam.

Dari sisi bandara, KTJ sebenarnya sudah sangat layak atau bahkan bisa dibilang bagus. Namun, masalah aksesibilitas ini menjadi hal yang tidak kalah penting untuk dicari solusi tepat untuk menunjang operasional sebuah bandara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jawa barat, angkasa pura ii, bandara kertajati

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top