Permintan Baja Lapis Turun pada Semester I/2019

Seperti permintaan barang industri di sektor properti, serapan baja lapis selama semester I tahun ini juga lesu.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 08 Juli 2019  |  19:01 WIB
Permintan Baja Lapis Turun pada Semester I/2019
Bluescope Indonesia, produsen baja lapis ringan memperkenalkan produknya - Bisnis.com/Dinda Wulandari

Bisnis.com, JAKARTA — Seperti permintaan barang industri di sektor properti, serapan baja lapis selama semester I tahun ini juga lesu.

Henry Setiawan, Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (the Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA), mengatakan selain siklus tahunan, di mana pada paruh pertama proyek-proyek pembangunan belum gencar dilaksanakan, pada tahun ini permintaan semakin lemah karena pemilihan umum pada April lalu.

“Semester satu tahun ini demand sangat lemah, selain faktor cuaca dan libur, ada pilpres juga,” katanya, Senin (8/7/2019).

Dia berharap permintaan pada semester II atau mulai bulan ini segera pulih seiring dengan dimulainya proyek-proyek pembangunan dan inovasi rumah yang dilakukan masyarakat.

Permintaan baja lapis dalam negeri saat ini banyak berasal dari perumahan dan industri, untuk pembangunan gudang dan pabrik.  Adapun, produk yang mendominasi penjualan berjenis rangka atap yang digunakan dalam pembangunan rumah tapak atau landed house.

“Rangka atap baja lebih awet dan ramah lingkungan dibandingkan kayu,” kata Henry, yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Sunrise Steel ini.

Berdasarkan data Indonesia Zinc Aluminium Steel Industries (IZASI) permintaan baja lapis di Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun. Total kapasitas produksi anggota asosiasi baja lapis ini sebesar 660.000 per tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri baja

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top