Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tren Perumahan: Hunian Kompak, Rumah Tapak Rasa Apartemen

Dulu masyarakat memiliki rumah besar untuk menampung jumlah anak yang mereka miliki. Pasalnya, tren memiliki anak banyak di Indonesia sempat terjadi. Namun saat ini banyak masyarakat yang mulai menunda pernikahan, atau memiliki satu atau dua anak.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 04 Juli 2019  |  08:40 WIB
rumah4minimalis.com
rumah4minimalis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Pergeseran tren gaya hidup dan pemilihan hunian di perkotaan mulai terjadi.  Gaya hidup yang cukup mahal di tengah kota menggeser tren 'pernikahan muda dan anak banyak,' hal ini berdampak pada tren pembelian hunian, realestat residensial di pasar properti kota.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna memprediksi nantinya, generasi milenial akan lebih memilih hunian kompak dibandingkan rumah yang berukuran besar.

"Saat ini memiliki rumah besar sudah bukan menjadi kebanggaan pemilik rumah, sudah tidak ada prestige ukuran rumah besar dan kecil, saat ini yang terpenting adalah gaya hidup, trending, jalan jalan," tuturnya pada Bisnis beberapa waktu yang lalu.

Dulu masyarakat memiliki rumah besar untuk menampung jumlah anak yang mereka miliki. Pasalnya, lanjut Yayat, tren memiliki anak banyak di Indonesia sempat terjadi. Namun saat ini banyak masyarakat yang mulai menunda pernikahan, atau lebih menyukai memiliki satu atau dua anak.

"Kalau orang tua memiliki satu atau dua anak kan tidak butuh rumah besar," tuturnya.

Selain itu, Yayat melanjutkan, kedua orang tua yang bekerja, lebih memilih untuk menitipkan anaknya di tempat penitipan anak seperti daycare, homecare atau sekolah full day School.

Pasar milenial perkotaan, katanya, menjadi pasar terbesar di sektor properti, tren ini lambat laun akan semakin menjamur diperkotaan.

Marketing Director Paramount Land Alvin Andronicus mengatakan bahwa pihaknya telah mempersiapkan proyek yang dapat diserap pasar untuk segmentasi para generasi yang mulai memasuki tren tersebut.

"Kita yakin dengan pasar itu," tuturnya pada Bisnis Rabu (3/7/2019).

Alvin menuturkan bahwa tempat huni akan selalu dibutuhkan oleh setiap orang. Disisi lain, perkembangan kota yang pesat dan kepadatan tanah di pusat Jakarta saat ini menggeser para penduduk untuk beralih ke satelit city termasuk BSD, Bekasi, dan Tangerang.

Alvin menuturkan bahwa proyek Paramount land yang berada di Gading Serpong memiliki bentuk rumah compact dengan fasilitas yang lengkap. Sesuai dengan karakter milenial yang suka dengan kelengkapan fasilitas layaknya apartemen.

Selain itu, Alvin mengatakan bahwa pengelolaan di setiap cluster premium dikelola oleh pengembang sehingga keamanan, pengelolaan sampah, air dan listrik sudah menjadi bagian biaya yang harus dibayarkan penghuni setiap bulan.

Alvin mengatakan bahwa segmentasi pasar yang disasar oleh Paramount land yakni para generasi milenial yang rata rata berumur 27 tahun hingga 37 tahun.

Menurutnya, bangunan yang compact, menjadi tempat yang efisien. Penghuni tidak perlu lahan besar, penghuni akan sibuk berangkat pagi pulang malam. jadi sudah tidak tren lagi untuk memiliki hunian yang besar..

"Hal yang penting adalah efektivitas penggunaan bangunan, itu yang menjadi tren sekarang. Sehingga kami menyediakan tipe compact dua lantai. tren itu mulai masuk ke pasar," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah tapak Paramount Land
Editor : M. Rochmad Purboyo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top