Prediksi HSBC : Ekonomi Indonesia Tumbuh 5%, IHSG Bisa Tembus 7.000

HSBC memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menjadi yang terbaik di Asia meskipun mengalami perlambatan. IHSG justru diprediksi bisa tembus 7.000 pada akhir tahun ini.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  19:26 WIB
Prediksi HSBC : Ekonomi Indonesia Tumbuh 5%, IHSG Bisa Tembus 7.000
Gedung HSBC di London, Inggris, Rabu (8/8/2018). - Reuters/Hannah McKay

Bisnis.com, JAKARTA -- Ekonomi Indonesia diprediksi bisa bertahan lebih baik dibandingkan negara Asia lainnya di tengah ketidakpastian global saat ini. Bahkan, Indeks Harga Saham Gabungan diprediksi bisa tembus 7.000 pada tahun ini.

Chief Market Strategiest Southeast Asia Investment Service and Product Solutions Group HSBC James Cheo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi stabil di kisaran 5% pada 2019 dan 2020. Konsumsi rumah tangga dan belanja infrastruktur akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Negeri Zamrud Khatulistiwa tersebut.

"Memang persentase pertumbuhan ekonomi lebih lambat dari 2018, tetapi masih lebih baik ketimbang negara Asia lainnya," ujarnya dalam diskusi terbatas pada Kamis (20/06/2019).

Pada 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan berada pada level 5,17%. Pada tahun ini, pemerintah Indonesia menargetkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pertumbuhan ekonomi bisa tembus 5,3%.

Lalu, pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi lebih agresif pada APBN 2020 yakni, 5,3% sampai 5,6%.

Cheo mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari negara Asia lainnya karena sektor konsumsi yang cukup tangguh, sedangkan negara lainnya sangat bergantung dengan ekspor.

"Konsumsi Swasta tetap tangguh dalam beberapa bulan terakhir, sentimen bisnis pun membaik. Dengan kepastian hasil pemilu, reformasi ekonomi pada belanja infrastruktur bisa dipercepat," ujarnya.

Adapun, sentimen positif akan menghampiri negara emerging market pada semester II/2019. Sinyal Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat (AS), melonggarkan kebijakan moneter menjadi salah satu penyebabnya.

Managing Director Chief Market Strategist Asia HSBC Cheuk Wan Fan mengatakan, pihaknya memperkirakan Federal Reserve bakal memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini.

"Kami prediksi The Fed [Federal Reserve] bakal pangkas pada September 25 bps dan Desember 25 bps. Kami ekspektasi Fed Fund Rate tidak akan berubah di rentang 1,75% - 2% sampai 2020," ujarnya.

Cheuk pun memperkirakan, pemangkasan suku bunga The Fed bisa membuat investor kembali melirik investasi ke negara emerging market, terutama di Asia.

"Arus modal masuk ke emerging market bisa meningkat jika The Fed pangkas suku bunga tersebut," ujarnya.

Untuk itu, dia melihat prospek pasar modal Indonesia masih cukup bagus meskipun sudah mencapai titik yang agak mahal.

"Saya masih prediksi IHSG [Indeks Harga Saham Gabungan] bisa capai rekor 7.000 pada akhir tahun ini," ujarnya.

Cheuk pun menyoroti beberapa sektor usaha di pasar modal yang potensial yakni, perbankan, properti, dan telekomunikasi.

"Memang kinerja emiten telekomunikasi sedang konsolidasi, tetapi punya prospek bagus ke depannya dan bisa ditahan untuk saat ini," ujarnya.

Pada penutupan perdagangan Kamis (20/06/2019), IHSG melemah tipis 0,05% menjadi 6.335.

Lalu, Bank Indonesia pun mengikuti langkah The Fed dengan mempertahankan tingka suku bunga. Saat ini, suku bunga BI berada di level 6%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, ekonomi

Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup