Pasok Gudang Moderen Tak Mampu Penuhi Permintaan Dagang-el

Sekitar 70 persen dari seluruh pasok sudah terisi oleh perusahaan-perusahaan seperti Third Party Logistic (3PL) dan Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Adapun, sekitar 10 persen dari total pasok mulai diisi oleh perusahaan dagang-el.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  16:17 WIB
Pasok Gudang Moderen Tak Mampu Penuhi Permintaan Dagang-el
Ilustrasi - mmproperty.com

Bisnis.com, JAKARTA – Perkembangan pasar dagang elektronik yang pesat di Indonesia saat ini diprediksi akan terus berlanjut. Sebagai hasilnya, pasok gudang di kawasan industri terutama yang moderen kesulitan mengejar permintaan yang ada.

Farazia Basarah, Senior Manager, Industrial & Logistic Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia menyebutkan bahwa saat ini total pasok yang ada untuk gudang moderen sudah mencapai 1,3 juta meter persegi di Jakarta dan sekitarnya dan hampir seluruhnya sudah terisi.

“Dalam beberapa tahun terakhir kami melihaat bahwa ada kenaikan minat baik dari investor maupun dari pemilik industri, meskipun sudah cukup besar, pasok gudang moderen di kawasan industri bisa dikatakan masih kekurangan pasokan,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Kamis (13/6/2019).

Sekitar 70 persen dari seluruh pasok sudah terisi oleh perusahaan-perusahaan seperti Third Party Logistic (3PL) dan Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Adapun, sekitar 10 persen dari total pasok mulai diisi oleh perusahaan dagang-el.

“Pangsanya terus bertambah, karena pertumbuhan perusahaan dagang-el sangat pesat. Untuk memenhi permintaan pasok dari sektor tersebut masih ada hambatan-hambatan seperti pengembangan infrastruktur dan pembiayaan daring, tapi ada tanda bahwa kendala itu akan berkurang dan kondisi akan membaik,” jelasnya.

Sejumlah ecommerce seperti Lazada, Zalora, dan Shopee masih terus berkembang cukup pesat. Perusahaan dagang-el lainnya seperti Blibli juga akan terus aktif berkembang. Pengembangan gudang moderen yang memakan waktu cukup panjang membuat pengembang kesulitan membangun pasok dan mengejar permintaan yang ada.

“Pembangunan suatu kawasan gudang moderen untuk satu perusahaan saja kan tidak bisa setahun dua tahun, pasti lebih, bisa lma sampai 10 tahun, dan pelan-pelan. Itu yang membuat pengembangan menjadi lama, dan susah memenuhi industrinya yang perkembangannya pesat sekali,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pergudangan, gedung perkantoran

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top