Tim Kesehatan Haji Harus Kedepankan Upaya Promotif dan Preventif

Tantangan kesehatan yang seringkali dihadapi ialah beragamnya kondisi fisik, serta kondisi iklim dan lingkungan di Arab Saudi yang berbeda dengan kondisi di Indonesia.
Fitri Sartina Dewi
Fitri Sartina Dewi - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  14:53 WIB
Tim Kesehatan Haji Harus Kedepankan Upaya Promotif dan Preventif
Jamaah calon haji (JCH) melakukan perekaman biometrik di Aula Asrama Haji Palembang,Sumsel, Rabu (18/7/2019. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ini terdapat penambahan kuota haji sebanyak 10.000 jemaah sehingga totalnya menjadi 231.000 jemaah.

Dengan adanya penambahan kuota haji, Indonesia menjadi negara dengan jumlah jemaah terbesar di dunia. Hal itu pun menjadi tantangan bagi pelayanan kesehatan haji yang setiap tahunnya seringkali mengalami perubahan dan penambahan seiring meningkatnya jumlah jemaah haji risiko tinggi.

Menteri Keseatan Nila F. Moeloek mengatakan tantangan yang seringkali dihadapi ialah beragamnya kondisi fisik, serta kondisi iklim dan lingkungan di Arab Saudi yang berbeda dengan kondisi di Indonesia seperti perbedaan musim, kelembaban udara yang rendah, perbedaan lingkungan sosial budaya, keterbatasan waktu perjalanan ibadah haji dan kepadatan populasi jemaah haji dapat berdampak terhadap kesehatan jemaah haji.

Lamanya perjalanan haji di pesawat juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan jemaah karena beberapa keadaan yang sakit dapat timbul dan memperberat keadaan jemaah yang mempunyai penyakit sebelumnya.  

“Selama penerbangan kondisi lingkungan udara berbeda dengan kondisi lingkungan daratan. Bertambahnya ketinggian dan berkurangnya kadar oksigen dan dapat menyebabkan sakit atau rasa tidak nyaman pada tubuh jemaah selama perjalanan seperti gangguan pernapasan, deep vein thrombosis, dehidrasi, jet lag, dan mabuk udara,” ujar Nila dalam siaran pers, Rabu (12/6/2019).

Berdasarkan catatan Kemenkes, Nila menyebutkan pada 2018 sebanyak 2.366 jemaah haji mengalami sakit saat tiba di Arab Saudi, dan beberapa di antaranya dirujuk ke Rumah Sakit Arab Saudi.  

Hal tersebut juga terjadi ketika masa pemulangan. Faktor kondisi lingkungan di pesawat menjadi pertimbangan pemulangan jemaah haji yang sakit. Pada tahun lalu, tercatat sebanyak 54 jemaah haji masih tertinggal di Rumah Sakit Arab Saudi pascaoperasional karena kondisi kesehatan yang belum laik terbang.

Nila berharap pelayanan kesehatan penerbangan haji tahun ini dapat berjalan lebih baik. Para petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) diharapkan akan mampu untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal baik sebelum keberangkatan, selama penerbangan, baik saat di Arab Saudi maupun setelah kembali ke Tanah Air.  

Saat ini jumlah TKHI sebanyak 1.521 orang dan 306 Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan. Dengan adanya rencana penambahan 10.000 kuota haji, maka akan dibutuhkan penambahan personel.

“Mereka diharapkan dapat melakukan sosialisasi dalam bentuk promotif dan preventif kepada jemaah di tingkat kabupaten/kota pada tahap awal dan selama masa tunggu,” ucapnya.

Selain itu, para jemaah diharapkan telah mendapatkan konseling kesehatan untuk mengendalikan faktor risiko kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan sebelum keberangkatan maupun saat di Tanah Suci.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ibadah Haji, kementerian kesehatan

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top