AS Kenakan Tarif Tinggi untuk Produk Impor China via Jalur Laut

Bisnis.com, JAKARTA -- Amerika Serikat mulai mengenakan tarif yang lebih tinggi, 25% untuk banyak barang impor China yang tiba di pelabuhan AS sejak Sabtu (1/6), dalam intensifikasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia yang memicu pembalasan dari Beijing.
Nirmala Aninda | 02 Juni 2019 04:00 WIB
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat mulai mengenakan tarif yang lebih tinggi, 25% untuk banyak barang impor China yang tiba di pelabuhan AS sejak Sabtu (1/6), dalam intensifikasi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia yang memicu pembalasan dari Beijing.

Dalam pemberitahuan Kantor Perwakilan Dagang AS yang dirilis pada 15 Mei, ditetapkan tenggat waktu 1 Juni untuk barang impor asal China tiba di pelabuhan Amerika Serikat.

Setelah itu kebijakan Bea Cukai dan Perbatasan AS akan mulai memberlakukan tarif 25%. Batas waktu berakhir pada pukul 12:01 EDT pada Sabtu (1/6).

"Kenaikan tarif memengaruhi berbagai barang konsumen, dan komponen perantara dari China termasuk modem dan router internet, papan sirkuit printed, furnitur, penyedot debu dan produk penerangan," seperti dikutip melalui Reuters, Sabtu (1/6/2019).

Pada hari yang sama, China mulai memberlakukan tarif balasan yang lebih tinggi pada sebagian besar daftar target US$60 miliar barang impor AS.

Tarif balasan yang sebelum diumumkan pada 13 Mei dan mulai berlaku pada tengah malam di Beijing (16:00 GMT), dengan penerapan tarif tambahan 20% atau 25% pada lebih dari setengah dari 5.140 produk AS yang ditargetkan.

Beijing sebelumnya telah memberlakukan tarif tambahan 5% atau 10% terhadap beberapa barang impor AS.

China memerintahkan kenaikan tarif terbaru sebagai tanggapan atas langkah Trump.

Trump menuduh China melanggar kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan mereka dengan mengingkari komitmen sebelumnya yang dibuat selama berbulan-bulan negosiasi.

Namun, China membantah tuduhan itu.

Beijing telah berubah menjadi lebih agresif dalam beberapa pekan terakhir, menuduh Washington kurang tulus dan bersumpah bahwa mereka tidak akan menyerah pada tuntutan pemerintahan Trump.

Retorika Beijing juga menjadi semakin lantang terutama sejak Washington menempatkan perusahaan China Huawei Technologies Co Ltd. dalam daftar hitam yang secara efektif melarang perusahaan telekomunikasi raksasa China tersebut melakukan bisnis dengan perusahaan AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top