Serapan Karet, Tren Tapak Sepatu Mulai Bergeser

Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) menyatakan bahwa serapan karet pada tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan tahun lalu atau sekitar 18% dari total produksi karet pada tahun ini. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh pergeseran tren produk konsumer.
Andi M. Arief | 27 Mei 2019 21:35 WIB
Sneakers lokal, dari Saint Barkley, Pijak Bumi, dan Nah Projects - Bisnis/repro

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) menyatakan bahwa serapan karet pada tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan tahun lalu atau sekitar 18% dari total produksi karet pada tahun ini. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh pergeseran tren produk konsumer.

Direktur Eksekutif Asprisindo Firman Bakrie mengutarakan tren penggunaan tapak sepatu kini cenderung bergeser ke arah sepatu jenis sneaker. Adapun, tapak sepatu pada sepatu sneaker umumnya berbahan Poliuretan yang kadang kandungan plastiknya kerap ditingkatkan.

“Bahan ini teras lebih nyaman. Memang trennya akan semakin meningkatkan penggunaan sepatu sneakers. Bisa jadi penggunaan bahan karet sulit untuk bisa bergerak naik,” ucapnya kepada Bisnis, Senin (27/5/2019).

Maka dari itu, lanjutnya, asosiasi menilai peningkatan penggunaan karet dapat didorong oleh pengguunaan tingkat keselamatan kerja di industri. Pasalnya, sambungnya, salah satu komponen tingkat keselamatan adalah penggunaan sepatu-sepatu pengaman yang notabenenya menyerap karet cukup banyak.

Namun demikian, Firman menemukan beberapa kali perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang kerap menggunakan sepatu pengaman impor. “Padahal industri lokal sudah memiliki kualitas tingkat global.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri karet

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top